ADVERTIZED

ads ads ads ads ads

Kamis, 15 Oktober 2009

KISAH KELUARGA YANG SELALU BERBAKTI PADA TANAH AIRNYA





















(bisa dilihat pada : KITLV ( Koninklijk Instituute Taal-, Laand-, en Volkenkunde) http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=eenvoudigdistkitlv&onderwerp=Surakarta&rpp=30&cp=4)

Foto RM.KOESEN
(putra PB.IX kakaknya PB.X)

KISAH KELUARGA YANG SELALU BERBAKTI PADA TANAH AIRNYA

I. BAKTI PADA TANAH AIRNYA KERATON SOERAKARTA

1. PANGERAN ARIO POERBODININGRAT : MASA KECIL HINGGA DEWASA SERTA LANGKAH MENITI KARIER


Langit diatas kota Surakarta cerah pada waktu itu tepat di hari Ahad/ Minggu Pon, 17 Agustus 1851 atau 18 Sawal 1779 Tahun ALIP Windu KUNTARA Wuku JULUNGWANGI atau 19 Syawal 1267H pada jam setengah tujuh sore hari (yang nantinya Beliau wafat pada Sabtu Pahing 7 Desember 1940, 6 Dulkangidah 1871 Tahun Dal Windu Adi Wuku Marakeh,7 Zulkaidah 1359 H) , terdengar tangis bocah kecil yang kelak akan bernama Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Poerbodiningrat,di dalam kompleks cepuri Karaton Soerakarta di kala itu, Bapak dari bocah kecil itu sedang berjuang untuk meraih tahta kerajaan Karaton Soerakarta (suksesi),yang kala itu kerajaan Karaton Soerakarta masih dipegang oleh pamannya yaitu Sahandhap Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono VIII, waktu itu banyak kandidat calon pengganti raja diantaranya adik dari Pakoe Boewono VIII. Di saat ketegangan suksesi memuncak lahirlah bocah kecil bernama Bandoro Raden Mas Abadi yang kelak bernama Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Poerbodiningrat yang lahir dari Raden Dojoasmoro (yang nama sebenarnya adalah Raden Adjeng Koesnijah cucu Pakoe Boewono VIII) dengan Kangdjeng Goesti Pangeran Hario Praboewidjojo (yang kelak bernama Sahandhap Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono IX). Tangisan bayi kecil Bandoro Raden Mas Abadi membuat hati para dayang-dayang dan seisi istana gembira dan bersuka cita. Lahirnya Bandoro Raden Mas Abadi ini begitu sangat menghibur hati Kangdjeng Goesti Pangeran Hario Praboewidjojo yang kala itu sedang resah dan gundah hatinya.



Begitu banyak cerita yang menarik tentang Bandoro Raden Mas Abadi diantaranya : beliau pada umur dua tahun begitu sangat aktif dan tidak bisa diam, dayang pengasuhnya sampai kewalahan mengasuhnya setiap benda yang ada didekatnya selalu dilemparkan ke orang-orang didekatnya. Beranjak umur tiga tahun beliau sudah nampak kecerdasannya, beliau sudah bisa membuat mainan sendiri dari bahan-bahan disekitarnya. Beranjak umur enam tahun Bandoro Raden Mas Abadi gemar menulis dan membaca, kegemarannya itu berlanjut samapai beliau tua dan beliau pun bisa membuat lukisan dan batik meskipun belum begitu sempurna membatiknya, teman bermain beliau adalah anak dari Tuan Godlip paman suami dari bibinya. Beranjak umur sebelas tahun Bandoro Raden Mas Abadi gemar melihat,mengamati dan belajar dari tukang besi,empu,tukang pembuat wayang dari kulit,tukang pengasah batu mulia,tukang pembuat perhiasan dari emas,tukang pembuat gamelan,guru karawitan,guru tari,guru silat dan olah kesaktian,guru keprajuritan,guru intelejen,pujangga,dan guru ketatanegaraan, dan lain-lain samapai-sampai tidak ada yang tidak beliau pelajari, dan semua yang beliau pelajari dapat beliau cerna dan pahami.



Pada tanggal 30 Desember 1861 (yang bertepatan pada hari Senin Legi, 30 Desember 1861,26 Jumadilakhir 1790 Tahun JE Windu SANGARA Wuku SUNGSANG, 27 Jumadilakhir 1278H) Bapak beliau yaitu Kangdjeng Goesti Pangeran Hario Praboewidjojo diangkat menjadi Raja di Karaton Soerakarta Hadiningrat yang selanjutnya bergelar Sahandhap Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono IX, sehingga beliau Bandoro Raden Mas Abadi pun mendapat penganugerahan dari Pakoe Boewono IX dengan gelar Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Poerbodiningrat atau lebih dikenal dikalangan Eropa dengan nama Pangeran Hario Poerbodiningrat. Sewaktu beliau berumur dua belas tahun beliau disuruh Pakoe Boewono IX menemani dalam lawatan Sinuwun ke Eropa, dan di setiap menemani Sinuwun ke Eropa beliau selalu menyempatkan diri membeli buku-buku pengetahuan, ataupun membaca buku di perpustakaan serta melihat,mengamati dan mempelajari di laboratorium. Saat umur dua belas tahun itu pun beliau mendapatkan rekomendasi belajar ke A.M.S (Algemeene Midelbaare School), karena beliau nampak kepandaiannya, beliau menempuh sekolah itu hanya dalam waktu dua tahun, beliau juga disayangi dan disukai guru-guru beliau, hingga Hooge Meester (Kepala Sekolah A.M.S) merekomendasikan untuk beliau melanjutkan kuliah ke Leiden (kuliah dibidang militer), namun selain kuliah di bidang militer beliau juga mempelajari bidang-bidang keilmuan yang lainnya melalui teman-teman sekuliahnya. Lama kuliah beliau lima tahun, setelah bernajak umur tujuh belas tahun beliau lulus dari kuliah beliau. Selama beliau kuliah di Leiden, beliau sering memanggil dan menyuruh para abdidalem untuk mengamati perkembangan yang ada di dalam Keraton Soerakarta selama beliau kuliah.

Beranjak umur delapan belas tahun beliau pulang ke tanah air beliau, dan langsung menghadap Bapak beliau yaitu Sinuwun Pakoe Boewono IX sampai-sampai bahagia perasaan Sinuwun kala itu menemui anak beliau pulang dari kuliah. Namun kala itu tanah air beliau , sedang mengalami banyak pergolakan politik yang dilancarkan oleh beberapa pihak atau kelompok yang terkenal dengan “ begal,kecu,maling, dan gedhor “ (= yaitu sejenis pencurian dan perampokan dan tak ketinggalan pula disertai pembunuhan), hal ini terjadi karena adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh para tuan tanah dan pemodal yang memeras tenaga para pekerja dan mengupahnya dengan sangat murah, namun harga-harga kebutuhan pokok sangat mahal dan tidak terjangkau rakyat, dan banyak kelaparan disana sini). Maka dari itu beliau diperintahkan oleh Sinuwun untuk belajar ke Belanda di bidang intelejen sampai beliau berumur dua puluh lima tahun. Dan setelah beliau berumur dua puluh enam tahun, beliau ditugaskan dibidang militer dengan pangkat Luitenan Kolonel (Overste) dan juga diberi gelar oleh Sinuwun dengan pemberian nama Pangeran Ario Poerwodiningrat dan saat itu juga beliau membeli dari seorang belanda rumah yang sekarang berada di jl.suryo no.20 Kel.Purwodiningrat Jebres Surakarta (yang mulai th.1948-1949 disrobot oleh R.Wongsopandoyo (yang termasuk kelompok merah sepanjang bengawan solo dan diduga dia berasal dari sekitar Klaten, terindikasi termasuk gerombolan perampok dan pembunuh,sekarang ini rumah Pangeran Ario Poerbodiningrat atau Pangeran Ario Poerwodiningrat yang telah disrobot R.Wongsopandoyo, sekarang ditempati keturunannya yang bernama R.Wakidjo (yang sekarang berubah kepemilikan menjadi terpecah dalam ; RVO (Regleement Vereineging Ordonantie),Perceel 280 (yang berubah menjadi SHM No.349 atas nama R.Wakidjo), dan Perceel 228 (yang berubah menjadi SHM No.350 atas nama R.Wakidjo), pensertifikatannya tidak diketahui ahli waris maupun juga Kraton, hal ini mungkin akan berakibat cacat hukum atau batal demi hukum), lihat foto dibawah ini).
























Gambar: foto keluarga R.Wakidjo keturunannya Wongsopandojo yang menyrobot rumah dan tanah R.Koesen B.K.P.H.Kolonel Poerbodiningrat di Jl.Surya No.20 Poerwodiningratan Surakarta (foto didapat penulis dari www.suaraparapangeran.blogspot.com)




Beliau bertugas mengawasi gerak-gerik pergolakan politik dan meredamnya, diantaranya aksi pencurian dan pembunuhan yang terjadi di Juwiring Klaten, perampokan dan pembunuhan di Tegalgondo Klaten, perampokan dan pembunuhan di Gondang Sragen, dan lain-lain masih banyak lagi। Hingga beliau umur tiga puluh tahun, beliau mengabdi pada tanah airnya dibidang militer dan kepolisian।

Seiring dengan beliau bertugas kemiliteran dan kepolisian, beliau juga berbisnis diantaranya : usaha batik, batu mulia, perhiasan dari logam mulia, meubel, dan lain-lain, yang menjadi komoditi eksport beliau, dalam hal ini beliau bekerjasama dengan keluarga Tuan Godlip (keluarga bangsawan dari Jerman), selain itu beliau mendapat pengakuan dari Karaton Soerakarta Hadiningrat, bahwa beliau mempunyai semua harta dan bahwa itu benar-benar milik beliau pribadi, karena keahlian beliau dalam berdagang dan berkarya, sehingga Sinuwun Pakoe Boewono IX memerintahkan pada Patih Kangdjeng Raden Adipati Sosrodiningrat menegaskannya dalam Soerat Pikoekoeh No.204 (yang dikeluarkan pada Jum'at Pahing, 2 September 1881,8 Sawal 1810 Tahun JIMAKIR Windu ADI Wuku PAHANG,7 Syawal 1298H). Mulai dari beliau berumur kurang lebih dua puluh tahun beliau selalu mempraktekkan apa saja ang pernah beliau pelajari di bangku kuliah maupun dari para guru dan empu, diantaranya membuat alat-alat eksplorasi,membuat usaha-usaha batik beraneka ragam,membuat usaha-usaha meubelair,membuat usaha-usaha pembuatan gamelan, membuat usaha-saha pembuatan wayang kulit,membuat usaha-usaha pembuatan mesiu,membuat beraneka ragam gending-gending jawa, membuat beraneka ragam tari-tarian,membuat tata praja modern, mengaudit keuangan, membuat usaha-usaha batu mulia, membuat usaha-usaha pembuatn besi mulia dan di eksport ke Negara-negara di Eropa, dan usaha-usaha lainnya. Selain itu beliau juga berbisnis dengan keluarga Tuan Godlip, yaitu berupa bisnis pembuatan perhiasan dari batu mulia, dan logam mulia, dan juga berbisnis pemurnian logam mulia yang dibutuhkan di sekitar Eropa dan Amerika, serta melayani pula alat-alat dibidang moneter dan perbankan, selain itu beliau dipercaya sebagai staf ahli pada salah satu bank terkenal di Eropa. Selain itu beliau juga sangat suka turun ke desa, disertai tirakat dan bertapa, dalam perjalanan beliau selalu disertai para abdidalem prajurit yang setia dan patuh pada beliau. Dalam perjalanan beliau turun ke desa, tak lupa beliau dan para abdidalem prajurit juga mengajarkan ilmu silat dan olah kesaktian, dan setelah beliau mengajarkannya lantas beliau memuridkan pemuda-pemuda desa sehingga terbentuklah padepokan bela diri disetiap desa yang beliau lalui.
Pada waktu beliau berumur tiga puluh tahun, beliau ditugasi oleh Sinuwun menjabat sebagai Pejabat Bagian Bea dan Cukai di Pelabuhan Soerabaia., yang ditugaskan oleh Sinuwun mengawasi kapal barang yang keluar masuk pelabuhan disamping itu beliau juga ditugasi memperbaiki sistem manajemennya.

Waktu beliau berumur empat puluh tahun, beliau menikah dengan Raden Adjeng Soemasti putri dari Kangdjeng Pangeran Hario Hadiwijaja putra Mangkoenagoro IV (= beliau adalah istri permaisuri/padmi/sah BKPH.Kol.Poerbodiningrat/RM.Koesen (karena baru dewasa ini bermunculan yang mengaku anak keturunan BKPH.Kol.Poerbodiningrat/RM.Koesen dari istri selir/tidak sah). Meskipun beliau menikah namun, lama beliau mempunyai anak, beliau mempunyai anak setelah beliau berumur lima puluh tahun. Anak yang terlahir sewaktu beliau berumur lima puluh tahun ialah seorang putri bernama Bandoro Raden Adjeng Bandiyah atau sering disebut dengan nama Raden Adjeng Soetarmi, dikarenakan beliau merasa tidak tenang setelah peristiwa suksesi di Karaton Soerakarta mulai tahun 1880 hingga 1893. Setelah meredanya gelombang suksesi di Karaton Soerakarta mereda yaitu setelah adik beliau menang suksesi dan bergelar Sahandhap Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono X, beliau ditugaskan juga menjabat sebagai Pejabat Bagian Bea dan Cukai di Pelabuhan Semarang selain juga sebagai Pajabat Bagian Bea dan Cukai di Pelabuhan Soerabaia. Di Semarang beliau membuat lapangan pekerjaan yaitu berupa CV dan NV bersama-sama dengan teman kuliahnya. Saat beliau berumur lima puluh tahun, beliau juga membuka lapangan kerja yatiu berupa CV dan NV yang ergerak dibidang eksport –import tanaman hias dan bunga-bungaan.


Tepat beliau berumur lima puluh tahun, beliau pulang ke Karaton Soerakarta ikut menyaksikan bahwa anak/putri beliau bernama Bandoro Raden Adjeng Bandiah atau Raden Adjeng Soetarmi mendapat pengakuan dari Karaton Soerakarta Hadiningrat, bahwa anak/putri beliau tersebut mempunyai semua harta dan bahwa itu benar-benar milik dari beliau pribadi dan anak/putri beliau tersebut sebagai penerusnya, karena keahlian beliau dalam berdagang dan berkarya, sehingga Sinuwun Pakoe Boewono X memerintahkan pada Patih Kangdjeng Raden Adipati Sosrodiningrat menegaskannya dalam Soerat Pikoekoeh No.10 (yang diterbitkan pada Minggu Wage 17 Juni 1900,18 Sapar 1830Tahun Je Windu Sancaya Wuku Warigalit,18 Safar 1318 H)






B.R.Ay. Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo putri RM.KOESEN


2. PANGERAN ARIO POERBODININGRAT : SEMASA SUKSESI

Mengulang lagi kisah beliau Pangeran Ario Poerbodiningrat saat berumur empat puluh tiga tahun, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1893 (yang bertepatan pada hari Minggu Legi, 1 Januari 1893,12 Jumadilakhir 1822 Tahun JE Windu SANGARA Wuku WARIGAGUNG, 12 Jumadilakhir 1310H), ayah beliau yaitu Sinuwun Pakoe Boewono IX memanggil beliau Pangeran Ario Poerbodiningrat atau Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Kolonel Poerbodiningrat ke Istana Tetirah di R.M.SOEGIYO ZALDY ZORRO DARSITA,Bc.Hk Cucunya RM.KOESEN
(anak kandung satu-satunya dari B.R.Ay.Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo)
Langenharjo, dengan disaksikan oleh Pangeran Ario Praboewidjojo atau Pangeran Ario Hangabei, Pangeran Ario Haryomataram, Pangeran Ario Praboeningrat , dan Pangeran Ario Koesoemodiningrat, dalam hal ini Sinuwun Pakoe Boewono IX berpesan (dalam Serat Wara Iswara) yaitu : “ Poma-poma trahingwang, aja sira umadeg Aji, mung nyuwuna berkahipun luluhur Nata, sabab Ratu yen sinedya dadi luput, amung Gusti Allah Sang Malikul Kusna kang hanetepke Adeging Aji “. ( artinya : pesanku (Sinuwun) pada anak-anak keturunanku, jangan lah kamu terlalu berharap berdiri sebagai Raja saja, tetapi selain dari itu memintalah berkah nenek moyangmu para Raja, karena kalau hanya berharap saja menjadi Raja jikalau tidak disertai doa dan permohonan dengan ucapan syukur kepada Allah pastilah tidak terlaksana, karena yang menetapkan seseorang menjadi Raja hanyalah Allah Sang Malikul Kusna ). Pesan Sinuwun Pakoe Boewono IX tadi terucap disaat Sinuwun dalam keadaan sakit oleh karena kelelahan setelah Acara Tingalandalem Jumenengan Sinuwun yang ke tiga puluh satu. Hal kesehatan Sinuwun yang menurun dikarenakan sewaktu Acara Tingalandalem Jumenengan Sinuwun menerima banyak tamu yang tidak ada hentinya hingga tiga puluh hari tiga puluh malam lamanya, para tamu yang datang itu diantaranya ialah : Raja/Ratu Belanda,Tuan Gubernur Jenderal,Tuan Gubernemen, Tuan Residen, Tuan-tuan Duta Besar Negara-Negara tetangga,Negara-Negara di seluruh Eropa,dan Raja atau Perwakilan Negara-Negara di Seluruh Dunia, disamping itu juga para Sentana (Kerabat/Keluarga Raja), dan Para Raja di seluruh Nusantara. Karena Sinuwun sangat kelelahan sehingga Sinuwun bertamasya ke vila relaksasi sinuwun di Langenharjo, selama Sinuwun relaksasi di Langenharjo, Sinuwun memanggil keenam putranya yaitu :Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Kolonel Poerbodiningrat, Pangeran Ario Praboewidjojo atau Pangeran Ario Hangabei, Pangeran Ario Haryomataram, Pangeran Ario Praboeningrat , Pangeran Ario Djojokoesoemo dan Pangeran Ario Koesoemodiningrat, yang menghadap Sinuwun selain keenam putranya, yaitu : B.R.Ay.Soeriodipoero, B.R.Ay.Wiriodiningrat, Pangeran Ario Hadikoesoemo, B.R.Ay.Adipati Sosrodiningrat, dan Pangeran Ario Pakoeningrat. Akan tetapi putra-putri Sinuwun yang lainnya tidak bisa menghadap karena sudah pulang kembali ke daerah-daerah tugasnya masing-masing. Pada pertemuan Sinuwun dengan putra-putrinya di Langenharjo, Sinuwun banyak sekali memberikan pesan-pesan dan nasihat, yang diantaranya ialah :
a)“ Sira kabeh padha rukuna nganti mengkone nadyan Ingsun wus kondur ing jaman kelanggengan. Sira kabeh padha rukuna aja padha regejegan,nek ana rembug dirembug aja padha cengkrah, nek ana rijeki sathithik padha dipangan sithik,semono uga ana rijeki akeh padha dipangan akeh. Lan sing baku sira kabeh padha gawe makmure Praja lan kawula, aja amung gawe makmure dhewe “. (artinya : hei kalian semua putra-putriku, aku berpesan hendaklah nantinya kalian hidup rukun satu sama lain, walau aku sudah berpulang ke rahmatullah, aku harap kalian nantinya hendaklah hidup rukun satu dengan lainnya, kalau ada permasalahan diantara kalian, hendaklah kalian jangan bertengkar, dan kalau suatu saat ada rejeki meskipun sedikit, hendaklah di bagi dengan adil, begitupun kalau suatu saat ada rejeki besar. Tetapi yang terutama adalah kalian haruslah membuat makmur dan sejahteranya Negara dan rakyat, jangan hanya mencari keuntungan sendiri dan memperkaya diri sendiri kalian saja).
b) “ Sira kabeh padha ngastaa bawad pangreh praja ing kabisan sira dhewe-dhewe aja padha iren ingirenan, marga kabisan kuwi paringaning Gusti Allah, ora bisa manungsa tanpa Gusti Allah, kabeh sing ngatur amung Gusti Allah, manungsa amung sadrema nglakoni, Gusti Allah sing nemtokake. Dadi nadyan Ingsun wus kondur ing jaman kelanggengan Ingsun njaluk sing mengko umadeg Ratu aja ngongkreh-ongkreh sedulure marga iren. Apa maneh sing Ingsun dhewe ndhawuhake marang sira kanggo Ratu mengkone, Ingsun njaluk ajenana dhawuh Ingsun. Apa maneh Ingsun wus ngandika sing baku adeging HARJA TATA, lah ing kene sira kabeh wus weruh Ingsun wus ngangkat amisudha Senapati Perang, ya Ingsun njaluk sengkuyungen tumuju adeging Aji. Sokur sira kabeh gelem manut ing dhawuh Ingsun. Amarga Ingsun amung mamrihake becike, ora ana Ratu mamrihake ala “. (artinya : hei kalian semua putra-putriku, aku berpesan hendaklah kalian dalam bertugas menjadi pemimpin di daerah-daerah tugas kalian mampu mengemban tugas dengan sempurna berdasar keahlian kalian masing-masing, karena keahlian itu harus kalian sadari bahwa keahlian kalian itu berasal dari Allah, manusia itu tidak bisa apa-apa kalau tidak diberi keahlian oleh-Nya, semua itu yang mengatur hanya Dia, sebagai manusia hanya bisa melakukan tetapi Allah yang menentukan. Jadi meskipun nanti aku telah dipanggil-Nya, aku minta pada kalian, bagi siapapun nanti yang jadi Raja, pesanku jangan bertindak tidak adil pada saudara-saudaranya karena sebelumnya punya perasaan saling iri hati. Selain itu aku juga berpesan pada kalian, bahwa aku telah memilih dari kalian untuk menjadi Raja (dalam hal ini yang dimaksud Sinuwun adalah Pangeran Ario Poerbodiningrat), aku minta pada kalian hargailah semua pesan dan perkataanku. Di atas semua itu, aku berpesan pada kalian, yaitu tegakanlah berdirinya HARJA TATA (mengenai Sistem HARJA TATA akan penulis terangkan pada bab selanjutnya), nah disinilah kalian semua sudah mengerti maksudku, bahwa aku sudah mengangkat dan mewisuda seorang Senapati Perang (dalam hal ini yang dimaksud Sinuwun adalah Pangeran Ario Poerbodiningrat), dan permintaanku pada kalian untuk mendukungnya dalam tugasnya sebagai Senapati Perang dan hingga menuju menjadikannya dia menjadi Raja. Itupun yang aku harap kalian semua mau menurut perintahku dan pesanku. Karena perlu kalian ketahui semua yang aku sarankan adalah demi kebaikan kalian semua, tidak ada seorang bapak apalagi Raja menyarankan yang tidak baik pada anak-anaknya)

Kisah selanjutnya yaitu pada tanggal 2 Januari 1893 ( yang bertepatan pada hari Senin Pahing, 2 Januari 1893,13 Jumadilakhir 1822 Tahun JE Windu SANGARA Wuku WARIGAGUNG,13 Jumadilakhir 1310H) Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono IX menerima tamu Tuan Asisten Gubernur Jendral, yang melaporkan berkembang pesatnya kejahatan pembunuhan dan berkembang pesatnya “ begal,kecu,maling,rampok,dan gedhor “di seluruh pulau Jawa yang sukanya merusak,mencuri,merampok yang disertai membunuh warga sipil dan terutama Tuan-Tuan V.O.C yang berada di seluruh pulau Jawa terutama di daerah Klaten,Sragen,Wonogiri dan Boyolali, dan Tuan Asisten Gubernur Jendral tadi juga berkata pada Sinuwun, apabila Sinuwun tidak segera menatanya maka Sinuwun nantinya tidak dipercaya lagi oleh pemerintah (dalam hal ini pemerintah Hindia Belanda) menjadi Raja yang adil dan bijaksana. Mendengar laporan Tuan Asisten Gubernur Jendral tadi Sinuwun hanya berkata dengan tenang pada Tuan Asisten Gubernur Jendral demikian : “ Tuwan, kadadosan ingkang makaten punika kalawau kalampahan amargi mboten wontenipun tepa salira saha reh sathithik edhingipun para Tuwan-Tuwan tanah saha Tuwan V.O.C. Kula kinten manawi para Tuwan-Tuwan wonten raos welas asih dhateng para kawula dasih mbok bilih kadadosan ingkang kalawau mboten kalampahan “ ( artinya : Tuan, keadaan yang demikian itu terjadi oleh karena tidak adanya rasa tepa salira/peduli dan tidak adanya rasa saling berbagi,dan musyawarah mufakat untuk kebersamaan dari para Tuan tanah dan Tuan V.O.C. Saya kira apabila para Tuan tanah dan Tuan V.O.C ada rasa welas asih/belas kasih pada rakyat/warga sipil, mungkin kejadiannya tidak seperti kejadian saat ini ). Mendengar penjelasan Sinuwun yang demikian tadi, kecewalah Tuan Asisten Gubernur Jendral dan pergilah Tuan tadi meninggalkan Sinuwun dengan pamit terlebih dahulu pada Sinuwun, dengan mimik muka yang kecut. Seperginya Tuan Asisten Gubernur Jendral tadi Sinuwun kelihatan bingung dan khawatir dengan yang telah Sinuwun laporkan pada Tuan Asisten Gubernur Jendral tadi, dalam benak hati Sinuwun bertanya-tanya kenapa Sinuwun melaporkan seperti itu, bagaimana dengan kejadian yang terjadi nantinya. Sehingga Sinuwun memanggil putranya yang bernama Bandoro Kangdjeng Pangeran Hario Poerbodiningrat yang mempunyai nama lain Kangdjeng Goesti Pangeran Hario Poerwodiningrat, bahwa baru saja Sinuwun kedatangan tamu yaitu Tuan Asisten Gubernur Jendral yang melaporkan kepada Sinuwun mengenai berkembang pesatnya fenomena “ begal,kecu,gedhor,maling, lan rampok “, dan dalam hal ini diminta oleh pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Tuan Asisten Gubernur Jendral diharapkan menata keadaan agar aman. Sehingga Sinuwun memanggil dan memerintahkan pada Pangeran Ario Poerbodiningrat untuk meredam situasi dan keadaan dan mengadakan perang terhadap “ begal,kecu,gedhor,maling, lan rampok “ di seluruh tanah Jawa, Batavia, Madura dan Bali (dalam hal ini Tuan Asisten Gubernur Jendral hanya mencari-cari alasan untuk segera menggulingkan Sinuwun dari tahtanya, karena sebelum Tuan Asisten Gubernur Jendral menghadap Sinuwun, pemerintah Hindia Belanda mendengar desas desus bahwa Sinuwun bersama Sultan mengadakan permufakatan akan memberontak pada Belanda, Sinuwun akan balas dendam pada Belanda yang telah membuang ayahnya Sinuwun Pakoe Boewono VI ke Ambon (mengenai Intrik-Intrik Politik,Taktik dan Rencana Strategi Sinuwun Pakoe Boewono IX dalam mempersiapkan perlawanan terhadap Belanda akan penulis bahas pada Bab selanjutnya). Jadi mulai tanggal 3 Januari 1893 (yang bertepatan pada hari Selasa Pon, 3 Januari 1893,14 Jumadilakhir 1822 Tahun JE Windu SANGARA Wuku WARIGAGUNG,14 Jumadilakhir 1310H) hingga tanggal 20 Januari 1893 (yang bertepatan pada hari Jum'at Kliwon, 20 Januari 1893,2 Rejeb 1822 Tahun JE Windu SANGARA Wuku SUNGSANG,2 Rajab 1310H) beliau Pangeran Ario Poerbodiningrat meredam dan mengadakan perang terhadap “ begal,kecu,gedhor,maling, lan rampok “ sampai-sampai tidak pernah pulang ke Karaton Soerakarta, beliau pulang ke Karaton Soerakarta dan menghadap ayahnya Sinuwun Pakoe Boewono IX setelah beliau berhasil meredam situasi dan keadaan………bersambung


(Vertaald in het Nederlands:)

(Kan worden bekeken op: KITLV (Koninklijk Instituute Taal-, Laand-, en Volkenkunde)

http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=e

envoudigdistkitlv&onderwerp=Surakarta&rpp=30&cp=4)

Foto RM.KOESEN
(Zoon van zijn broer PB.IX PB.X)

FAMILIE verhaal is ALTIJD gewijd aan thuisland

I. Paleis op Bakti thuisland Soerakarta

1. Ario Poerbodiningrat PRINCE: DE KLEINE EN STEP UP tot volwassen carrière


De lucht boven de stad Surakarta fel op dat moment recht op de dag van zondag / zondag Pon,

17 augustus 1851 of 18 Sawal 1779 Jaar Alip Windu KUNTARA wuku JULUNGWANGI of 19 Shawwal

1267H om half zeven 's middags (die hij later is overleden op zaterdag Pahing 7 december

1940 , 6 Dulkangidah 1871 Jaar Dal Windu Adi wuku Marakeh, 7 Zulkaidah 1359 H), was er een

huilend jongetje zou worden genoemd Bendoro Kangdjeng Prins Hario Poerbodiningrat, in het

paleis complex Cepuri Soerakarta op het moment, is de vader van het jongetje moeite te

bereiken Paleis troon Soerakarta (erfopvolging), die toen het koninklijk paleis is nog

steeds in het bezit van zijn oom Soerakarta namelijk Sahandhap Sampejandalem Ingkang

Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono VIII, het was een stuk van vervangende

kandidaten, met inbegrip van de jongere broer van de koning Pakoe Boewono VIII. Op het

moment van opvolging tot piek spanning werd geboren een jongetje genaamd Bendoro Raden Mas

Abadi die later de naam Bendoro Kangdjeng Hario Poerbodiningrat Prins Raden Dojoasmoro

geboren (de naam is eigenlijk de kleinzoon van Raden Adjeng Koesnijah Pakoe Boewono VIII)

met Kangdjeng Goesti Hario Praboewidjojo Prins (later vernoemd Sahandhap Sampejandalem

Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono IX). De huilende baby Bendoro Raden

Mas Abadi laten de harten van de dames in de wacht en het hele paleis gelukkig en blij. De

geboorte van Raden Mas Abadi Bendoro is zo erg geruststellend Kangdjeng Goesti Hario

Praboewidjojo Prins die toen angstig en depressief hart.



Zo veel interessante verhalen over Bendoro Raden Mas Abadi onder hen: hij op de leeftijd van

twee jaar was zeer actief en kan niet stil, dames overweldigd zorgzame nanny voor elk object

dat is in de buurt is altijd gegooid naar de mensen in de buurt. Verplaatst leeftijd van

drie jaar heeft hij verscheen intelligentie, hij was in staat om hun eigen speelgoed te

maken uit materialen omheen. Verplaatst leeftijd van zes jaar Bendoro Raden Mas Abadi liefde

schrijven en lezen, zijn passie voor het doorgaat samapai oud en hij kan maken schilderijen

en batik membatiknya hoewel niet zo perfect, hij is het kind speelkameraadje van de heer

Godlip oom van de echtgenoot van zijn tante. Verplaatst leeftijd van elf jaar Bendoro Raden

Mas Abadi graag te zien, te observeren en te leren van een smid, meester, leder marionet

maker, klusjesman slijper edelstenen, gouden sieraden maker, klusjesman instrument maker,

docent muzikanten, dansdocenten, vechtsporten leerkrachten en Als magie, leerkrachten

soldaat, intelligentie leraar, dichter, leraar en openbare instellingen, en anderen

samapai-tot er niets was wat hij geleerd, en al wat hij leerde hij kan verteren en te

begrijpen.



Op 30 december 1861 (die samenvalt op maandag Legi, 30 december 1790 Jaar 1.861,26

Jumadilakhir JE Windu SANGARA wuku stuitligging, 27 Jumadilakhir 1278H) De heer Prins, hij

is Kangdjeng Goesti Hario Praboewidjojo werd koning bij de volgende titel van het Paleis

Soerakarta Sahandhap Sultanaat's Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan

Pakoe Boewono IX, zodat hij Bendoro Raden Mas Abadi krijgen ook de schenking van Pakoe

Boewono IX met de titel van Prins Hario Bendoro Kangdjeng Poerbodiningrat of beter bekend

onder de Europeanen door de naam van Prins Hario Poerbodiningrat. Toen hij twaalf jaar oud

was werd hij veroordeeld tot de Pakoe Boewono IX Sinuwun reis vergezellen naar Europa, en in

eventuele begeleidende Sinuwun naar Europa, hij altijd zich ter beschikking om de boeken van

de kennis, of het lezen van een boek in de bibliotheek en bring kopen, kijken en bestuderen

in het laboratorium. Op de leeftijd van twaalf jaar dat hij werd aangeraden om te leren AMS

(Algemeene Midelbaare School), omdat hij lijkt slimheid, nam hij de school in slechts twee

jaar, hij hield ook van en vond zijn leraren, naar Hooge Meester (hoofd van de school AMS)

aan te bevelen naar de universiteit ging hij naar Leiden (op het gebied van militaire

academie), maar in aanvulling op college op militair gebied, is hij ook het bestuderen van

de wetenschappelijke veld de andere via vrienden sekuliahnya. Zijn oude school vijf jaar,

waarna bernajak zeventienjarige leeftijd studeerde hij af aan zijn college. Tijdens zijn

lezing in Leiden, was hij vaak opgeroepen en vertelde de rechtbank werknemers op de

ontwikkelingen in het Paleis Soerakarta observeren tijdens zijn lezing.

Verplaatst leeftijd van achttien jaar keerde hij terug naar zijn vaderland, en hij wordt

direct geconfronteerd met de heer Sinuwun Pakoe Boewono IX in de mate dat tevreden gevoel op

het moment Sinuwun de kinderen die hij thuis kwam van school te voldoen. Maar zijn vaderland

in die tijd, had een veel politieke beroering gelanceerd door verschillende partijen of

groepen die bekend staan ​​als "dief, struikrover, dief, en gedhor" (= dat is een soort van

diefstal en roof, en last but not least ook vergezeld door moord), dit gebeurt omwille van

het onrecht gedaan door de verhuurders en beleggers dat de arbeiders en mengupahnya zijn

belasten met een zeer goedkoop, maar de prijzen van basisbehoeften zijn erg duur en niet

betaalbaar het volk, en veel van de honger, hier en daar). Zo was hij in volgorde van

Sinuwun naar Nederland te leren op het gebied van inlichtingendiensten, totdat hij was

vijfentwintig jaar. En nadat hij was zesentwintig jaar oud, werd hij toegewezen op het

gebied van de militaire met de rang van kolonel Luitenan (Luitenant-kolonel) en mede gelet

op de titel door Sinuwun door het geven van de naam van Prins Ario Poerwodiningrat en rechts

en dan kocht hij van een Nederlandse woning die nu in jl.suryo geen 0.20 Kel.Purwodiningrat

Jebres Surakarta (die th.1948-1949 disrobot begon door R. Wongsopandoyo (waaronder rode

groep langs de rivier solo en dacht dat hij uit de hele Klaten, aangeduid met inbegrip van

hordes van rovers en moordenaars, nu huizen Prins Ario Poerbodiningrat of ario

Poerwodiningrat prins die heeft disrobot R. Wongsopandoyo, nu bezet door zijn nakomelingen

zijn vernoemd R. Wakidjo (die nu van eigenaar veranderd moet worden verdeeld; RVO

(Regleement Vereineging ordonnantie), Perceel 280 (die in een SHM No.349 draaide in de naam

van R. Wakidjo) en Perceel 228 (die in een SHM No.350 draaide in de naam van R. Wakidjo),

pensertifikatannya onbekende erfgenamen en ook het Paleis, kan dit leiden tot een miskraam

van justitie of nietig), zie foto hieronder).
























Figuur: familiefoto's nakomelingen Wongsopandojo R. Wakidjo het huis en land menyrobot R.

Koesen BKPHKolonel Poerwodiningratan Poerbodiningrat in Jl.Surya nr. 20 Surakarta (foto

verkregen van www.suaraparapangeran.blogspot.com auteur)



Hij is verantwoordelijk voor het toezicht op de bewegingen van politieke onrust en dempen

het, zoals diefstal en moord die plaatsvond in Juwiring Klaten, roof en moord in Tegalgondo

Klaten, roof en moord in Gondang Sragen, en anderen meer. Totdat hij was dertig jaar oud

was, werd hij gewijd aan zijn vaderland op het gebied van leger en politie.

Samen met zijn leger en politie plicht, hij is ook zaken doen zijn: batik business,

edelstenen, sieraden van edele metalen, meubels, enz., die zijn exportartikel geworden, in

dit geval werkt hij met de heer Godlip familie (koninklijke familie van Duitsland), naast

dat hij de erkenning gekregen van Soerakarta Sultanaat Palace, dat hij alle schatten en dat

het echt behoort persoonlijk aan hem, omdat zijn expertise op het gebied van handel en werk,

dus Sinuwun Pakoe Boewono IX beval de Patih Kangdjeng Raden Duke Sosrodiningrat bevestiging

van het in Pikoekoeh een brief No.204 (afgegeven op Pahing vrijdag 2 september, 1881.8 Sawal

1810 Jaar JIMAKIR Windu ADI wuku Pahang, 7 Syawal 1298H). Vanaf hem was ongeveer twintig

jaar, is hij altijd in praktijk wat hij leerde ang ooit op de universiteit als van leraren

en meesters, waaronder het maken van de tools van exploratie, waardoor de inspanningen

divers batik, spant zich in voor meubels, maken gamelan-inspanningen, waardoor

business-Saha-making Shadow Puppets, zich inspannen om buskruit vervaardiging, het maken van

een breed scala van gising-gising java, maken diverse dans, maken van een modern civiel

service systeem, financiële controle, waardoor de inspanningen edelstenen , waardoor de

inspanningen pembuatn edele metalen en wordt geëxporteerd naar landen in Europa, en andere

inspanningen. Daarnaast is hij ook zaken doen met de heer Godlip familie, namelijk het

bedrijf van het maken van sieraden van edelstenen en edele metalen en edele metalen

raffineren bedrijf ook nodig in Europa en Amerika, en dient ook de instrumenten van de

monetaire en bancaire veld, andere dan die werd hij benoemd als personeelslid expert op een

van de beroemde banken in Europa. Ze hield ook naar beneden naar het dorp, vergezeld tirakat

en boetedoening, de manier waarop hij altijd vergezeld van de rechter de werknemers zijn

loyaal en gehoorzaam soldaat in hem. In de loop van zijn afdaling in het dorp, vergeet niet

dat hij en zijn soldaten rechter medewerkers leren ook vechtsporten en sport

bovennatuurlijke krachten, en nadat hij zijn discipelen leerde en daarna het dorp jongeren,

het vormen van zelfverdediging in elk dorp hermitage waarvoor hij geslaagd is.
Op het moment dat hij was dertig jaar oud was, werd hij belast door Sinuwun diende als

afdeling Officer van Douane en Accijnzen in Port Soerabaia., In opdracht van Sinuwun kijken

schip goederen in en buiten de haven in aanvulling op dat hij was ook belast met de

verbetering van haar management systeem.

Toen hij veertig jaar oud, trouwde hij met de dochter van Raden Adjeng Soemasti Kangdjeng

zoon Prins Hario Hadiwijaja Mangkoenagoro IV (= zij is de vrouw keizerin / padmi / geldig

BKPH.Kol.Poerbodiningrat / RM.Koesen (als gevolg van deze nieuwe opkomende volwassenen die

beweren kind afdaling BKPH.Kol.Poerbodiningrat / RM.Koesen van de vrouw van concubine / niet

geldig). Hoewel hij nog getrouwd was, heeft hij een kind oud, hij had een zoon, nadat hij

was vijftig jaar oud. Kinderen die geboren worden als hij was vijftig jaar was een dochter

Bendoro genaamd Raden Adjeng Bandiyah of vaak gebeld door de naam Raden Adjeng Soetarmi,

omdat hij voelde zich ongemakkelijk na de gebeurtenissen in het Paleis Soerakarta

erfopvolging te beginnen in 1880 tot 1893. Na de versoepeling van de opvolging in het Paleis

Soerakarta golf verdwenen na de jongere broer van de erfopvolging en won hij de titel

Sahandhap Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono X, hij diende

ook als een officier van Douane en Accijnzen afdeling in de haven van Semarang alsmede

Douane en Accijnzen Afdeling Pajabat in Port Soerabaia. In Semarang hij banen te creëren in

de vorm van CV en NV, samen met vrienden van school. Toen hij vijftig jaar oud, hij is ook

open werkgelegenheid in de vorm van CV en NV yatiu dat ergerak gebied van export-import van

sierplanten en bloemen.


Rechts was hij vijftig jaar oud, keerde hij terug naar het paleis Soerakarta gekomen om te

zien dat het kind / de dochter die hij Bendoro Raden Raden Adjeng Bandiah of Adjeng Soetarmi

naam ontvangt erkenning van Soerakarta Sultanaat Paleis, de zoon / dochter dat hij alle

schatten en dat het echt en persoonlijke eigendommen van zijn zoon / dochter als zijn

opvolger, omwille van zijn expertise op het gebied van handel en werk, dus Sinuwun Pakoe

Boewono X besteld in Patih Kangdjeng Raden Duke Sosrodiningrat Pikoekoeh te bevestigen in

een brief nr. 10 (afgegeven op zondag de 17 juni 1900 Wage, 18 Sapar 1830Tahun Je Windu

Sancaya wuku Warigalit, 18 Safar 1318 H)






B.R.Ay. Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo dochter RM.KOESEN


2. PRINCE Ario Poerbodiningrat: Tijdens ERFENISSEN

Herhalen nogmaals het verhaal van zijn Prince Ario Poerbodiningrat op de leeftijd van

drieënveertig jaar, precies op 1 januari 1893 (die samenvalt op zondag Legi, 1 januari 1822

Jaar 1.893,12 Jumadilakhir JE SANGARA wuku WARIGAGUNG Windu, 12 Jumadilakhir 1310H),

namelijk zijn vader Sinuwun Pakoe Boewono IX noemde hem de Prins Ario Poerbodiningrat of

Bendoro Kangdjeng Prins Hario kolonel Poerbodiningrat naar het paleis resort in RMSOEGIYO

Zaldy DARSITA Zorro, Bc.Hk Zijn kleinzoon RM.KOESEN
(De enige natuurlijke kind van BRAy.Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo)
Langenharjo, gadegeslagen door Prins Ario Ario Hangabei Praboewidjojo of Prince, Prince

Haryomataram Ario, Ario Praboeningrat Prince, en Prins Ario Koesoemodiningrat, in dit geval

Sinuwun Pakoe IX Boewono aankondiging (in Fiber Wara Iswara), namelijk: "Poma

Poma-trahingwang, aja Sira umadeg Aji, kan nyuwuna berkahipun luluhur Nata, sabab Koningin

yen sinedya Dadi gemist, onder Gusti kang God de Malikul Kusna hanetepke Adeging Aji ".

(Betekenis: mijn boodschap (Sinuwun) over kinderrechten nakomelingen, verwacht niet dat van

u moet staan ​​als de koning alleen, maar afgezien van dat memintalah vaders zegen van de

Koningen, want als je alleen verwachten dat het koning, of niet vergezeld door gebed en

smeking met dankzegging Voorzeker, Allah niet gebeurt, want dat zet een persoon wordt een

koning is God de Malikul Kusna). Berichten Sinuwun Pakoe Boewono Sinuwun IX had, terwijl

gesproken in een toestand van pijn als gevolg van vermoeidheid na het evenement

Tingalandalem Jumenengan Sinuwun de dertig-one. Dit Sinuwun gezondheid terug omdat wanneer

het evenement Tingalandalem Jumenengan Sinuwun ontvangt vele gasten die niet ophouden om

ooit bestaan ​​dertig dagen en dertig nachten, de gasten die kwam, dat onder andere zijn:

Koning / Koningin van Nederland, de heer gouverneur-generaal, de heer Gubernemen, de heer

resident, heren ambassadeur naburige landen, staten in heel Europa, en de koning of

vertegenwoordiger landen wereldwijd, behalve dat is het ook de Sentana (familie / Familie

Koning), en de Koningen in de gehele archipel. Omdat Sinuwun erg moe, dus Sinuwun een

excursie naar de villa in Langenharjo sinuwun ontspanning, voor ontspanning in Langenharjo

Sinuwun, Sinuwun namelijk bellen met de zesde zoon: Bendoro Kangdjeng Hario kolonel

Poerbodiningrat Prince, Prince Ario Ario Hangabei Praboewidjojo of Prince, Prince

Haryomataram Ario, Ario Praboeningrat Prins, Prins ario Ario Koesoemodiningrat Djojokoesoemo

en Prince, die Sinuwun kijkt dan zes zonen, te weten: BRAy.Soeriodipoero,

BRAy.Wiriodiningrat, Prins Ario Hadikoesoemo, BRAy.Adipati Sosrodiningrat, en Prins Ario

Pakoeningrat. Maar de zonen en dochters Sinuwun anderen kunnen niet over het hoofd omdat zij

terug was gegaan naar gebieden van hun respectieve taken. Tijdens een bijeenkomst met zijn

zonen en dochters Sinuwun in Langenharjo, om Sinuwun veel geven boodschappen en adviezen,

die onder andere zijn:
a) "Sira kabeh padha rukuna nganti mengkone nadyan Ingsun WUS Kondur ING duurzaamheid

tijdperk. Sira kabeh padha rukuna padha regejegan aja, aja dirembug oma Ana rembug padha

cengkrah, oma ana rijeki sathithik padha dipangan Sithik, semono Uga ana rijeki akeh padha

dipangan akeh. Lan zingen Sira ruwe kabeh padha gawe makmure PRAJA lan onderwerpen, schreef

onder gawe makmure dhewe ". (Betekenis: hey gij zijt allen zonen en mijn dochter, vertelde

ik jullie laat later in harmonie leven met elkaar, hoewel ik al overleden aan Rahmatullah,

ik hoop dat u het leven in harmonie te laten met elkaar, als er problemen zijn tussen u,

laat jullie niet vechten, en als er op een dag zelfs een beetje geluk, laat in voor de

beurs, alsmede indien er op een dag is groot fortuin. Maar het belangrijkste is dat je moet

een welvarende en sejahteranya staat en de mensen te creëren, niet alleen op zoek naar hun

eigen voordeel en verrijk uzelf u alleen).
b) "Sira kabeh padha ngastaa bawad pangreh pradja ING kabisan Sira-dhewe dhewe aja padha

ingirenan Iren, clan kabisan kuwi paringaning Gusti Allah, ora kan manungsa zonder Gusti

Allah, zingen kabeh ngatur onder Gusti Allah, manungsa onder sadrema nglakoni, Gusti Allah

te zingen nemtokake. Dadi nadyan Ingsun WUS Kondur ING permanentie tijdperk Ingsun njaluk

zingen Koningin umadeg co-ngongkreh schreef ongkreh Irene sedulure clan. Wat Maneh zingen

Ingsun dhewe ndhawuhake Marang sira kanggo Koningin mengkone, Ingsun njaluk ajenana dhawuh

Ingsun. Wat Maneh Ingsun ngandika WUS ruwe adeging TATA Harja zingen, is ING Kene sira kabeh

WUS WUS weruh Ingsun lift amisudha Senapati Oorlog, ja Ingsun njaluk sengkuyungen tumuju

adeging Aji. Sira Sokur kabeh gelem dhawuh Ingsun ING gehoorzaam. Amarga Ingsun onder

mamrihake becike, Koningin mamrihake la ora ana. " (Betekenis: hey gij zijt allen zonen en

mijn dochter, vertelde ik jullie de leiding moet een leider zijn in de gebieden die u in

staat zijn om de taak van de taak tot in de perfectie op basis van uw vaardigheden

respectievelijk vanwege de vaardigheid die je moet weten dat je vaardigheid is van God, mens

kan niet alles zijn indien niet gegeven door zijn vakmanschap, dit alles dat alleen is

ingesteld Hij, als een man alleen kan doen, maar God beschikt. Dus terwijl later had ik hem

geroepen, ik smeek u, voor eenieder die later die Maar de koning, moet mijn bericht niet

deloyaal handelen zijn broers, omdat eerder een gevoel van wederzijds jaloezie. Daarnaast

heb ik u ook instructies die ik heb gekozen voor u om de Koning (in dit geval in kwestie was

Prins Ario Sinuwun Poerbodiningrat) Ik vraag u waardeer alle berichten en mijn woorden. Op

de top van dat, ik kreeg te horen dat je, namelijk de oprichting Harja tegakanlah TATA (TATA

Harja op Systems auteurs leggen in het volgende hoofdstuk), en dit is waar je al allemaal

weten wat ik bedoel, dat ik heb gesteld en mewisuda een Senapati oorlog (in dit geval was

Prins Ario Sinuwun Poerbodiningrat genoemd), en mijn verzoek aan u om hem te steunen in zijn

taak als Senapati Oorlog en tot hem koning te worden. En dat is wat ik hoop dat jullie gaan

allemaal volgens mijn bestellingen en mijn boodschap. Omdat je nodig hebt om alles wat ik

aanraad is voor het goed van u allen weet, niemand gesuggereerd dat de heer Koning is niet

bijzonder goed op haar kinderen)

Het volgende verhaal is op 2 januari 1893 (die samenvalt Pahing op maandag de 2 januari 1822

Jaar 1.893,13 Jumadilakhir JE SANGARA wuku WARIGAGUNG Windu, 13 Jumadilakhir 1310H)

Sampejandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono IX gasten ontvangen Mr

assistent gouverneur-generaal, die meldde de snelle groei en de snelle groei misdaad van

moord "rover, struikrover, dief, dief, en gedhor" het gehele eiland Java die een hekel

schade, stelen, roven, vergezeld te doden burgers en vooral heren VOC die zijn verspreid

over het eiland Java, met name in Klaten wijk, Sragen, Wonogiri en Boyolali, en de heer

assistent gouverneur-generaal had ook gezegd op Sinuwun, indien niet onmiddellijk regelen

dan Sinuwun Sinuwun zal niet opnieuw worden vertrouwd door de overheid (in dit geval de

Nederlandse) naar een rechtvaardige en wijze koning. Berichten gehoord heer assistent

gouverneur-generaal had net Sinuwun zei kalm bij Mr assistent gouverneur-generaal als volgt:

"Tuwan, kadadosan ingkang makaten punika kalawau kalampahan amargi mboten wontenipun tepa

salira Saha reh sathithik Tuwan edhingipun de Saha-grond Tuwan Tuwan VOC Kula kinten manawi

de Tuwan-Tuwan wonten Raos compassionate dhateng de onderwerpen dasih mbok Bilih kadadosan

ingkang kalawau mboten kalampahan "(dat wil zeggen: Meneer, dat dergelijke omstandigheden

zich voordoen door het ontbreken van een gevoel van tepa salira / zorg en het ontbreken van

een gevoel van delen, en consensus overeenkomst voor de saamhorigheid van de verhuurder en

de heer VOS Ik denk dat als de verhuurder en de heer VOS geen medeleven / medelijden met de

mensen / burgers, niet van het incident, zoals er vandaag gebeurd is). Gehoord de uitleg van

deze Sinuwun eerder kecewalah heer assistent gouverneur-generaal en de heer 'd verlaten

Sinuwun te gaan met de eerste afscheid Sinuwun, met een wrange gezichtsuitdrukking.

Seperginya heer assistent gouverneur-generaal had Sinuwun keek verward en bezorgd over wie

er Sinuwun verslag over de heer assistent gouverneur-generaal was, in de hoofden van harten

Sinuwun afvragen waarom Sinuwun verslag als dat, wat over de gebeurtenissen die later heeft

plaatsgevonden. Dus Sinuwun liet zijn zoon prins Hario Poerbodiningrat Bendoro Kangdjeng die

heeft een andere naam Kangdjeng Goesti Hario Poerwodiningrat Prins, die net Sinuwun aankomst

van de gasten dat de heer assistent gouverneur-generaal, die rapporteert aan de snel

groeiende Sinuwun over het fenomeen van de "dief, struikrover, gedhor, dief, lan had rover,

en in dit geval op verzoek van de Nederlandse Oost-Indische overheid, vertegenwoordigd door

de heer assistent gouverneur-generaal wordt verwacht om de staat om veilig te zijn. Dus

Sinuwun bellen en beval de Prins Ario Poerbodiningrat om de situatie en omstandigheden en

het verloop van de oorlog te onderdrukken tegen de "rover, struikrover, gedhor, dief, rover

Ian" door het land van Java, Batavia, Madura en Bali (in dit geval de heer Assistent

Gouverneur-Generaal alleen te vinden een excuus om Sinuwun onmiddellijk ten val te brengen

van zijn troon, want voordat de heer assistent gouverneur-generaal wordt geconfronteerd

Sinuwun, Nederlands Oost-Indische overheid geruchten gehoord dat de Sultan Sinuwun

gezamenlijke overeenkomst in opstand zullen komen die in Nederland, Sinuwun van wraak op de

Nederlanders die had gegooid zijn vader Sinuwun Pakoe Boewono VI naar Ambon (over de

politieke intriges, tactiek en strategie Plan Sinuwun Pakoe Boewono IX bij de voorbereiding

van verzet tegen de Nederlanders auteurs bespreken in het volgende hoofdstuk). Zo begint op

3 januari 1893 (die samenvalt Pon op dinsdag 3 januari 1893,14 Jumadilakhir jaar 1822 JE

Windu SANGARA wuku WARIGAGUNG, 14 Jumadilakhir 1310H) tot 20 januari 1893 (die samenvalt

Kliwon op vrijdag de 20 januari 1822 Jaar 1893.2 Rejeb JE Windu SANGARA wuku stuitligging, 2

Rajab 1310H) hij Prins Ario Poerbodiningrat moffel en heffingen oorlog tegen de "rover,

struikrover, gedhor, dief, rover Ian" in de mate dat nooit was teruggekeerd naar het paleis

Soerakarta, keerde hij terug naar het paleis van zijn vader en met uitzicht op Soerakarta

Sinuwun Pakoe Boewono IX nadat hij erin geslaagd om de situatie en omstandigheden zoveel

mogelijk te beperken ... ... ... verder















Minggu, 04 Oktober 2009

Komentar dari Penulis atas informasi dari sdr.Jerome Smith tentang The exist history of Republic of Indonesia was unfair

Komentar dari Penulis atas informasi dari sdr.Jerome Smith tentang The exist history of Republic of Indonesia was unfair

Dalam tulisannya sdr Jerome Smith yang demikian : " If this Problem is not taking measures and seriously, I will demanding and claiming to International Court of Law. I give you the information that in Indonesia is still a Economics Stagnancy such as infrastructure, real sector. You can see on Indonesia Market , its still SILENT, Social life and Society is not Buying Powerless, Banking Cases: corruption, Stagnant Credit and issues Forged Moneys. And on ORDE BARU regime MR.Soeharto that time his REPELITA TINGGAL LANDAS has printed IDR Moneys valuable RP.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that ( mungkin lebih dari itu), they save on some Sea Harbours that its' guarded by Navy Republic of Indonesia.And Abdurrahman Wahid and Megawati regime has printed IDR Moneys valuable Rp.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that (mungkin lebih dari itu), they save on all PONDOK PESANTREN.this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.).You should have managed all."

Komentar penulis adalah bahwa informasi itu mengenai tulisan sdr.Jerome smith yang berisi demikian: " After all Mr.Soekarno went abroad to take care his Plunder Property and now he has been in Austria with Camouflage name Mr.Gham Sunan Joyo Kusumo (Mr.SJK). The strangest thing is all of his Plunder Property was in the Name of King Pakoe Boewono and other Princes but why all of that could be changed became in the name of Mr.Soekarno (Mr.SJK)( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.).And on ORDE BARU regime MR.Soeharto that time his REPELITA TINGGAL LANDAS has printed IDR Moneys valuable RP.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that ( mungkin lebih dari itu), they save on some Sea Harbours that its' guarded by Navy Republic of Indonesia.And Abdurrahman Wahid and Megawati regime has printed IDR Moneys valuable Rp.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that (mungkin lebih dari itu), they save on all PONDOK PESANTREN.this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.)", adalah kurang benar , karena informasi tersebut tidak didukung oleh fakta-fakta dan saksi-saksi yang memperkuatnya, jadi penulis menyatakan bahwa itu berita yang tidak benar (ini dalah upaya asing untuk mengadu domba anak-anak bangsa Indonesia)

Namun informasi sdr. Jerome Smith yang berisi demikian mengenai : "The exist history of Republic of Indonesia was unfair. I can said that because started 1900-1914. Boedi Oetomo movement was the first movement in Indonesia that opposing Karaton Soerakarta State with plunder, rob, violete, and killed all the Richest King family.( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.) On 1914-1928, appeared the Communist clan from citizenry of Indonesia included Mr.Soekarno, they (they refer to Mr.Soekarno, R.Wakidjo's (R.Wakidjo Handojopranoto at Jl.suryo No.20 Solo/R.Wakidjo's family/Wongsopandojo's family, etc (in Indonesia language called perampok,maling,kecu,penyerobot tanah,pencuri,dan gedor) as rubber's group) plundered, robed, violeted and killed all the Richest King family too. On 1928, Mr.Soekarno was with all Communist Youth from anywhere in Indonesia was held the Youngman declaration which called " Soempah Pemoeda ". It's happened on October 28,1928, but before " Soempah Pemoeda " had been declared , Mr. Soekarno slandered Muso and that made Muso went to Soviet to studied but the truly happened after all the Communist Youth sitted on Bogor Palace, being fought in Community of Communist Youth, at least made Muso been forced by Community of Communist Youth and his Community itself. Short story on 1965 been happened " Rekayasa Epos Keserakahan Politik ". Mr. Soekarno looking for people that look like him to been placed in State Palace (that people had been sick) and Mr. Soekarno against another all the nation component such as TNI,PKI,PNI, and Religion . After all of that happened "Loebang Boeaya Moment" or " Pantjasila Sakti " which was being prepared by Mr.Soekarno and he had being prepared his replacement which was Mr.Soeharto (from Communist clan that entered TNI).( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.) ", berita ini adalah benar karena didukung oleh fakta-fakta sejarah dan saksi-saksi sejarah.

Sabtu, 03 Oktober 2009

This is an example terror (from terroris)tomy brother's ancestor was happened a traumatic syndrom. He was only caught by "Kecu" /Communist to kill him

This is an example terror (from realy terrorist) to my brother's ancestor was happened a traumatic syndrom. He was only caught by "Kecu" /Communist Group to kill him.(Why do they/Communism distruct quickly ?, and why don't Government proactive to this case?)

To : Mr. Ariyo Koesen
C.c : Chairman of Indonesian Police (KAPOLRI)
Chief of Police District Central of Java Indonesia (KAPOLDA JA-TENG)

Refer to your e-mail regarding the documents which you have mentioned that you are as the last owner of those documents issued by German Government.
After long discussion with all the party which may concern, we are doing to verify and checking intensively. of “ Who are YOU” actually.

Here with final result ;
You were born at small2 village at little kampong community which surrounded by poor people, than, you were adopted by Mr.S at S (small city at central of java,Indonesia).
You lived with mr.s & family as STEP SON until mr & mrs siswo passed away.
You are very2 lucky as you are adopted by him until you got formal education in Bachelor degree of law. Otherwise, You will have no education, not enough food, no permanent place to stay. Means You are NOTHING.
Because you were born at poor2 people that’s even you did not know who are your actually parents.
Finally you are not legal to say that you are one of the grand grand son from Royal.
You are not eligible to be the heritance from Soesoehoenan Pakoe Boewono IX.
To get verifying of those documents need several supporting documents which we believe you don’t have the line.


Son, Don’t dreams too much!
Back to your reality live.
Be a good husband.
Be a good father.
Be a good grand father.
Before you get crazy.

If you are still exist to try. To verify those documents, come to Abroad. Than you will get the real answer.
Consequently if you are not entitle, you will; be jailed or disappear finish by authorized Abroad Societe Sequrity.
Think about that thousand time, before you die.

Regards

Schmidt Wolfgang.
This is an example terror (from terroris)tomy brother's ancestor was happened a traumatic syndrom. He was only caught by "Kecu" /Communist to kill him.

The exist history of Republic of Indonesia was unfair

The exist history of Republic of Indonesia was unfair

The exist history of Republic of Indonesia was unfair. I can said that because started 1900-1914. Boedi Oetomo movement was the first movement in Indonesia that opposing Karaton Soerakarta State with plunder, rob, violete, and killed all the Richest King family.( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.) On 1914-1928, appeared the Communist clan from citizenry of Indonesia included Mr.Soekarno, they (they refer to Mr.Soekarno, R.Wakidjo's/R.Wongsopandojo's family, etc (in Indonesia language called perampok,maling,kecu,penyerobot tanah,pencuri,dan gedor) as rubber's group) plundered, robed, violeted and killed all the Richest King family too. On 1928, Mr.Soekarno was with all Communist Youth from anywhere in Indonesia was held the Youngman declaration which called " Soempah Pemoeda ". It's happened on October 28,1928, but before " Soempah Pemoeda " had been declared , Mr. Soekarno slandered Muso and that made Muso went to Soviet to studied but the truly happened after all the Communist Youth sitted on Bogor Palace, being fought in Community of Communist Youth, at least made Muso been forced by Community of Communist Youth and his Community itself. Short story on 1965 been happened " Rekayasa Epos Keserakahan Politik ". Mr. Soekarno looking for people that look like him to been placed in State Palace (that people had been sick) and Mr. Soekarno against another all the nation component such as TNI,PKI,PNI, and Religion . After all of that happened "Loebang Boeaya Moment" or " Pantjasila Sakti " which was being prepared by Mr.Soekarno and he had being prepared his replacement which was Mr.Soeharto (from Communist clan that entered TNI).( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.) After all Mr.Soekarno went abroad to take care his Plunder Property and now he has been in Austria with Camouflage name Mr.Gham Sunan Joyo Kusumo (Mr.SJK). The strangest thing is all of his Plunder Property was in the Name of King Pakoe Boewono and other Princes but why all of that could be changed became in the name of Mr.Soekarno (Mr.SJK)( this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.).
. If this Problem is not taking measures and seriously, I will demanding and claiming to International Court of Law. I give you the information that in Indonesia is still a Economics Stagnancy such as infrastructure, real sector. You can see on Indonesia Market , its still SILENT, Social life and Society is not Buying Powerless, Banking Cases: corruption, Stagnant Credit and issues Forged Moneys. And on ORDE BARU regime MR.Soeharto that time his REPELITA TINGGAL LANDAS has printed IDR Moneys valuable RP.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that ( mungkin lebih dari itu), they save on some Sea Harbours that its' guarded by Navy Republic of Indonesia.And Abdurrahman Wahid and Megawati regime has printed IDR Moneys valuable Rp.100,000 as much as 40,000 Trilion Rupiahs and maybe in more of that (mungkin lebih dari itu), they save on all PONDOK PESANTREN.this all had happened , because Western World, VOC, Capitalism Groups is always colonize, Devide Et Impera and soon to us, so that We kill us each other.).You should have managed all.

Senin, 21 September 2009

Mereka Para Komunis yang telah meninggalkan Azas Nilar Sathithik Edhing (Azas Kekeluargaan dan Musyawarah Mufakat)


















Foto RM.KOESEN

(putra PB.IX kakaknya PB.X)


(bisa dilihat pada : KITLV ( Koninklijk Instituute Taal-, Laand-, en Volkenkunde) http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=eenvoudigdistkitlv&onderwerp=Surakarta&rpp=30&cp=4)


Huru-Hara (bahasa jawanya : Horeg-Horegan Komunis) di Surakarta terjadi oleh karena perilaku dari beberapa pihak yang ingin menonjol dalam kelompok kaum berpaham Komunis, yang dalam istilah tembang karya dari R.Ay.Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo adalah “ Sabarang Reh yen Tilar Sethithik Edhing Wekasan Bakal Kapitunan “

Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah apapun tindakan, pola pikir, perkataan, sikap dan perilaku bila meninggalkan azas kekeluargaan dan musyawarah mufakat (disitir dari ucapan Bung Hatta) maka hasilnya terjadi kerugian/kesengsaraan besar bagi pihak-pihak yang meninggalkan azas-azas tersebut tadi. Karena apabila pihak-pihak tertentu yang meninggalkan azas-azas tersebut tadi pastilah dapat di peralat oleh suatu politik-politik dari Negara-negara tertentu yang punya kepentingan yang merugikan/menyengsarakan rakyat. Coba bila diantara pihak-pihak yang berhaluan keras mau berunding dan merapatkan barisan dengan Karaton Soerakarta, pastilah akan terjadi kedamaian yang berujung pada ketentraman dan kemakmuran bersama, tapi lain halnya apabila ada

didalampihak-pihak yang berhaluan keras oknum-oknumnya mempunyai ambisi menjadi pemimpin yang tak terkontrol kepemimpinan dan kekuasaannya, maka jawaban nya adalah memang disengaja untuk melakukan Sabarang Reh sing Tilar Sathithik Edhing Wekasan Bakal Kapitunan, itu yang mereka inginkan karena mereka berpendapat lebih baik mendobrak,membongkar,merusak, dan memporakporandakan setelah itu baru membangunnya kembali diatas dasar puing-puing kerusakan dan tumpukan masalah sebelumnya, dan mereka tidak berpikiran kalau nanti tumpukan masalah itu timbul dikelak kemudian hari, layaknya bagai anak kecil yang tidak dituruti permintaannya lalu mengamuk sejadi-jadinya dan merusak apapun dan tanpa berpikir panjang lebih dahulu. Maka oleh karena itu kami penulis sangat setuju dengan tindakan Proaktif Bapak Presiden Soeharto untuk menumpas habis Komunis,ajaran-ajaranya,dan antek-anteknya dari bumi Indonesia (agar stabilitas Keamanan dan Pertahanan Negara Indonesia tetap Stabil dan terkendali senantiasa, dan rakyat aman sentausa,adil dan makmur) dan Dunia pada umumnya. Dari uraian kami tadi pembaca bias menyimak sejarah pergolakan pemberontakan komunis tahun 1926 dari kaca pandang mereka, seperti uraian dibawah ini:



Pemberontakan 1926

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.


Pada bulan Januari 1926

Pada bulan Januari 1926, pemerintah Hindia Belanda memutuskan menangkap Musso, tetapi ia menghilang. Ternyata Musso kabur ke Singapura. Kemudian ia bersama Alimin ke Moskow untuk membicarakan Keputusan Prambanan, setelah Tan Malaka sebagai wakil Comintern yang ditemui Alimin di Manila, menolak keputusan PKI mengadakan pemberontakan (Keputusan Prambanan). Di sana mereka berdua mendapat jawaban dari Stalin, tidak diperkenankan mengadakan pemberontakan. Bahkan keduanya dipersilahkan tinggal selama tiga bulan untuk mendapat indoktrinasi kembali atas teori perjuangan revolusioner. Akhirnya mereka disuruh pulang dengan membawa keputusan, bahwa Stelin melarang PKI mengadakan pemberontakan. Tetapi ketika mereka dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pemberontakan meletus pada bulan November 1926 di Jawa Barat dan Sumatera Barat pada bulan 1927. Akibatnya PKI dibubarkan dan semua aktivisnya dibuang. Akhirnya Musso kembali ke Uni Soviet untuk sekolah lagi sebagai ‘petugas’ Comintern.

PEMBERONTAKAN KOMUNIS PADA TAHUN 1926

Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya di dalam tubuh SI yang cukup besar, maka PKI mulai memanfaatkan pengaruhnya untuk menggerakkan organisasi masa rakyat dengan menggunakan bendera SI untuk melakukan pergolakan fisik melawan pemerintah Hindia Belanda. Upaya PKI ini berhasil mencetuskan pergolakan diberbagai tempat, yaitu pada 12-14 Nopember 1926 di Kerisidenan Jakarta,12 Nopmever sampai 5 Desember di Banten, 12-18 Nopember 1926 di Priangan, 17-23 Nopember 1926 di Surakarta, 12 Nopember -15 Desmber 1926 di Kediri dan 1 januari-28 Februari 1927 di Silungkang (Sumatera Barat). Namun Pergolakan ini dapat diatasi oleh pemerintah Hindia Belanda dan banyak tokoh komunis-nasionalis yang ditangkap dan di penjarakan, bahkan ada yang dibuang Ke Digul tanah merah (Irian Jaya).

Pada tahun 1920 di Indonesia paham Marxisme mulai berkembang pesat

Pada tahun 1920 di Indonesia paham Marxisme mulai berkembang pesat

dan meluas, hal ini bisa dibuktikan dengan didirikannya PKI (Partai Komunis Indonesia) di Semarang oleh Semaun dan Darsono. Kemudian di Surabaya yang dipelopori oleh HOS Tjokroaminoto mendirikan Sarekat Islam yang berpaham Marxisme. Seperti diketahui sebelumnya Sarekat Islam merupakan organisasi

yang berpaham Islam dengan melihat kehadiran PKI yang lebih diterima masyarakat kecil, kemudian HOS Tjokroaminoto bersama Sarekat Islam mengadopsi dan ajaran Marxisme untuk dipadukan dengan ajaran Islam yang

kemudian melahirkan sintesa “Islam dan Sosialis” yang lebih diterima masyarakat (Alam 2004:371). Bung Hatta menentang paham profit oriented tetapi Bung Hatta mencoba mensejajarkan manusia sebagai makhluk tuhan agar memperoleh perlakukan yang sama dari negara denngan tidak menindas salah satu golongan oleh golongan yang lain .Bung Hatta memberikan pemahaman mengenai sosialisme yang berkaca dari kehidupan didesa yang berupa gotong royong dan azas kekeluargaan yang merupakan kesinambungan dari kolektivisme yang beraturan. Pada intinya Bung

Hatta menginginkan tidak adanya pemimpin yang besar yang tidak tekontrol untuk melaksanakan segala keinginannya, sebaliknya beliau menginginkan azas kekeluargaan yang dan mufakat untuk tidak mencari permusuhan tetapi menggali kebenaran bersama.

Pada akhir tahun 1911 dan awal 1912, barulah Ummat Islam mulai bangun dan berbangkit dari tidurnya. Dengan pimpinan Haji Samanhudi (Solo) dan kemudian di bantu, dilanjutkan dan di pimpin oleh Umar Said Cokroaminoto, maka didirikanlah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang akhirnya bernamakan ke jurusan sosial dan ekonomi dengan dasar keagamaan (Islam), perhimpunan ini bersifat massal meliputi seluruh Ummat Islam, sehingga getaran langkah dan geraknya amat besar pengaruhnya dan berkumandang jauh-jauh melintasi lautan seluruh Nusantara dari Aceh hingga Merauke. Di dalam dan terutama setelah Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan kemudian daripada ditanda-tanganinya Perjanjian Damai Versailles (1919), maka pemerintah jajahan Hindia Belanda mempergunakan taktik licin : Menina-bobokan bangsa Indonesia, dengan “pemberian hak-hak politik” (walaupun amat sederhana dan kecil sekali), sehingga dibentuknyalah Volksraad dan badan-badan kenegaraan yang lainnya.

Taktik ini didahului dengan hidangan “makanan yang lezat, manis dan gurih” --sesuai dengan lidah Indonesia-- berupa duurte tooslaq, kenaikan pangkat, pemberian berbagai-bagai bintang, tanda-tanda jasa dan lain-lain. Sementara itu, nyanyian merdu “November-Belofte” dilagukan dengan meriahnya di bawah pimpinan seorang kopelmeester yang cerdik, pandai, ulung dan bijaksana sesuai dengan tugasnya (Gubernur Jenderal) Idenburg.

Nyanyian yang serupa itu perlu didengungkan dan ditiupkan di dalam tiap-tiap telinga bangsa Indonesia. Sebab jika terjadi kerusuhan atau pemberontakan rakyat, maka Pemerintah Belanda pada waktu itu belum mempunyai kekuatan yang mencukupi untuk mengatasinya bagi mempertahankan kedudukan dan kekuasaan pemerintah jajahan Belanda di Indonesia, sedang kekuatan dari negeri Belanda sendiri tidak mungkin begitu saja dialirkan ke Indonesia sebagai bantuan karena Belanda harus mempertahankan kebebasan (neutraliteit) negaranya.

Beberapa tahun kemudian daripada itu, pemeritah jajahan Belanda menunjukkan tangan besi dan melakukan tindakan-tindakan keras dalam segala lapangan (zaman Gubernur Jenderal De Fook).

2. Sementara itu Sarekat Islam beralih sifat dan usahanya, menjadilah sebuah perhimpunan politik berdasarkan keputusan kongresnya di Madiun (1922). Partai Syarikat Islam Hindia-Timur dan 8 tahun kemudian berubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Kongres Jakarta dengan sendi dasar yang lebih kuat dan teguh serta program politik, ekonomi dan lain-lain yang lebih luas.

Dalam pada itu Sarekat Islam menderita kerusakan dan perpecahan di dalamnya dengan karena infiltrasi Komunis (periksalah di bawah, sehingga terbelah menjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah yang akhirnya merupakan 2 partai politik yang senantiasa bertentangan satu dengan lainnya), yakni Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dengan karena tekanan pihak pemerintah jajahan Belanda waktu itu atas kaum pergerakan umumnya, maka sikap ke (co-operation) menjadi non (non co-operation). Mereka keluarlah dari badan-badan perwakilan yang di bentuk pemerintah jajahan pada waktu itu.

3. Semasa keadaan politik di Indonesia agak panas dan perhubungan antara kaum pergerakan --terutama PSII-- menjadi tegang, makaa terdengarlah dengan sayup-sayup tapi cukup jelas dan terang coup d’etat kaum Wahabi dengan pimpinan Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud yang telah berhasil merebut kekuasaan negara dari tangan Syarif Husein, tangan-tangan dan boneka Inggris di Jaziratul Arab (1925).

Kemenangan kaum Wahabi dan pindahnya kekuasaan negeri Arab dari Syarif Husein kepada Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud tidak sedikit pengaruh, harga dan nilainya bagi perhimpunan dan pergerakan Islam di Indonesia. Dengan segera Ummat Islam di Indonesia mempersatukan diri di dalam suatu (permufakatan federasi) merupakan satu blok Islam yang lalu mengirimkan utusannya ke negeri Arab, yakni Umar Said Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansyur (masing-masing dari PSII dan Muhammadiyah).

Kesempatan itu dipergunakan untuk menyelenggarakan sebuah Kongres Seluruh Alam Islam, yang Ummat Islam Indonesia pun menjadi salah satu anggotanya dengan nama Mu’tamar-ul ‘Alam-il-Islami farul-Hindisy-Syarqiyah (MAIHS), Kongres Seluruh Alam Islam cabang Hindia Timur. Ikhtisar Ummat Islam Indonesia ke jurusan Pan-Islamisme ini gagal disebabkan karena halangan dan rintangan, saingan dan tantangan pihak Imperialis (terutama Inggris), karena Ummat Islam sendiri belum cukup besar kesadaran dan himmahnya untuk melaksanakan dan mewujudkan buktinya Pan-Islamisme itu, meskipun berpuluh-puluh tahun sebelumnya telah dianjurkan dimulaikan oleh pemimpin-pemimpin Islam Internasional yang amat masyhur, seperti Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Amir al-Husainy. Setelah mati dan buntunya usaha Islam Internasional yang pertama itu, maka diutusnyalah untuk kedua kalinya K.H. Agus Salim ke negeri Arab. Maka dibentuknyalah sebuah perhimpunan Islam Internasional --pengganti MAIHS yang kandas dan terdampar di lautan karang-- bernamakan Ansharul-Haremain (Pembela kedua Tanah Suci, Mekkah dan Madinah). Selain daripada jalan keluar melalui Pan-Islamisme, maka Ummat Islam Indonesia (baca : PSII) mencari pula jalan keluar ke jurusan Internasional “kiri dan Merah-muda” (socialistis, social demokratis dan agak Komunistis). Maka didapatnyalah hubungan administratif antara PSII dengan Liga anti-Imperialisme, anti-Kapitalisme dan anti-jajahan, lembaga mana berpusat di Eropa Barat.

Usaha ini segera menemui jalan buntu, dan putus sama sekali. Di antara sebab-sebabnya, perlulah di catat tekanan dan tindakan keras daripada pihak Parket pemerintah jajahan Belanda waktu itu. Berkenaan dengan itu, maka keadaan pergerakan politik, sosial, ekonomis, keagamaan dan lain-lain di Indonesia pada waktu itu tidak seberapa mencapai kemajuan, lesu dan kurang semangat seakan-akan hampir diam (statis).

4. Pada zaman awal kedudukan Jepang, maka semuanya perhimpunan-perhimpunan politik Islam dibunuhnyalah. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan kemudian MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), kedua-duanya buatan Jepang --dengan perantaraan agen-agennya kyai-kyai ala Tokyo-- merupakan lembaga dan medan pertempuran. Oleh pihak Islam muda, pihak revolusioner dan progresif, lembaga ini di pakai untuk menyusun dan mengatur “gerakan bawah tanah”, seperti juga yang dilakukan oleh kawan-kawan seperjuangan lainnya di Hookookai dan lain-lain badan “kebaktian” buatan “saudara tua” itu.

Benih-benih subversief di masa “sangkar emas” Jepang --yang sesungguhnya merupakan kamp konsentrasi, kamp tawanan yang halus-- di masa nanti menghadapi Revolusi Nasional, menjadi pendorong dan daya-kekuatan yang hebat.



KOMUNISME

1. Revolusi Komunisme di Rusia yang terjadi pada akhir Perang Dunia Pertama (1917), adalah salah satu patok yang maha penting di dalam sejarah dunia, terutama yang mengenai perkembangan Komunis Internasional. Segera kemudian daripada selesainya Perang Dunia Pertama itu (1919), maka agen-agen Komunis Internasional dengan pimpinan langsung dari Rusia --Internasional III-- menyebar dan menyelundup ke dalam hampir tiap-tiap negara di seluruh dunia. Juga di Indonesia. Dalam pemasukan dan perkembangan Komunisme di Indonesia, antara lain perlu di catat nama beberapa orang Belanda, seperti Baars dan Sneevlit. Di antara murid-muridnya yang amat setia, bolehlah di sebut Sama’un, Darsono, Marco (Kartodikromo), Alimin, Muso, Ali-archam, Tan Malaka dan lain-lain lagi.

Dengan cara menginjeksi racun Komunisme ke dalam tubuh dan jiwanya pemimpin-pemimpin Sarekat Islam pada waktu itu, maka dengan segera perhimpunan tersebut belah menjadi dua aliran yang bertentangan satu dengan lainnya sebagai musuh yang tak kenal damai.

Keputusan tentang adanya party-dicipline dalam Kongres Sarekat Islam tahun 1921 memisahkan dua aliran dan anasir itu, sehingga masing-masing berdiri dengan bentuk Partai Sarekat Islam Putih menjadi Partai Syarikat Islam Hindia-Timur (akhirnya PSII) dan Sarekat Islam Merah menyalurkan aliran Merahnya di dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sikap pemerintah jajahan pada waktu itu “melihat dan menanti”, sedang dalam prakteknya merupakan politik “adu domba” --devide et impera-- antara Partai Syarikat Islam Indonesia dan Partai Komunis Indonesia dengan selalu diselang-selingi oleh tindakan-tindakan yang “tidak langsung” (inderekt) : memukul kedua belah pihak, dengan membangunkan gerombolan-gerombolan Sarekat Hijau, Daf’us-Sial, al-Hasanatul-Khairiyah dan lain-lain (dalam zaman akhir juga tampak gerombolan cap Jangkar) ialah alat-alat pengacau yang dibiayai dan di pimpin langsung atau tidak langsung oleh pemerintah jajahan. Semangat Komunis muda yang berkobar-kobar waktu itu --dengan pusat (Central Comite) di Semarang, dengan kiblat Moskow dan dengan petunjuk-petunjuk langsung daripada agen-agen Lenin-- ingin segera dan cepat-cepat mencapaikan maksud dan tujuannya, merampas kekuasaan dari tangan pemerintah jajahan Hindia-Belanda.

Peristiwa itu terjadi pada akhir tahun 1926 dan terkenal dengan nama pemberontakan Komunis. Dalam tarikh tercatat sebagai coup d’etat Komunisme yang pertama. Dengan peristiwa itu yang sesungguhnya karena perbuatan provokasinya yang sudah agak lama sebelumnya sengaja diselundupkan ke dalam tubuhnya Komunisme Indonesia, maka pihak pemerintah jajahan mempunyai “alasan yang cukup kuat dan sah” untuk membasmi dan membinasakan “Komunisme”. Beribu-ribu manusia, laki-laki dan perempuan, tua dan muda menjadi korban perjuangan, korban Komunisme, di buang-diasingkan ke Boven Digul.

Di antara pemimpin-pemimpin yang ikut dalam pembuangan itu ialah Marco yang beberapa tahun kemudian meninggal di tanah pengasingan itu. Di dalam peristiwa tahun 1926 terebut di atas, baiklah di catat nama seorang agen provokator bikinan Belanda, pengkhianat Komunisme di Indonesia ialah Sanusi, seorang alat-penjajah Belanda, pemimpin Komunis gadungan.

Adapun pemimpin-pemimpin lainnya, mereka cepat-cepat meninggalkan Indonesia pergi ke luar negeri menuju ke jurusan Moskow. Di antara mereka yang mendapat “angin baik” bisa sampai di ibukota Komunis itu, sedang sebagian besar lainnya terdampar di tengah jalan (Singapura, Bangkok, Rangoon, Shanghai). Di antara mereka ini, bolehlah di catat nama-nama Tan Malaka, Alimin, Muso, Sama’un, Darsono dan Subakat.

Sampai dimana mereka itu setia kepada organisasinya (di Rusia) nyatalah dengan terang-benderang di kala mula pertama berkobar Revolusi Nasional di Indonesia (1945), terutama setelah revolusi tersebut agak reda. Mereka pulang kembali ke pangkalan semula, kecuali beberapa orang. Tentu dengan tugas-tugas daripada induk-organisasinya.

2. Sejak waktu itu hingga berakhirnya pemerintah jajahan Belanda (awal 1942), maka tidaklah tampak tanda-tanda bahwa Komunis di Indonesia akan hidup, bangun dan bangkit kembali seakan-akan pingsan kena pukau dan pukulan yang sangat hebat.

Nasionalisme di Indonesia timbul karena factor-faktor seperti berikut yaitu:

1. Pemerintahan belanda sendiri yang bersifat asing , menekan rakyat, sehingga timbul paham kesadaran kebangsaan.

2. Pertentangan kebdayaan, social, dan agama. Agama dijadikan sebagai alat unruk menyatukan tekad dan menumbuhkan paham kebangsaan.

3. Persamaan bahasa yang digunakan yaitu melayu.

4. Dasar kesusilaan yang mlahirkan rasa ketidakpuasan terhadap pemerintahan belanda

5. Kemajuan teknologi seperti radio da surat kabar serta kemudahan untuk mengadakan hubungan dengan kalangan lain.

6. Adanya hubungan dengan kerajaan belanda, sehingga bangsa Indonesia belajar berpolitik. Sehingga semakin bertambah rasa kebangsaan dan keinginan terbebas dari penjajahan.

7. Adanya kaum terpelajar baik dari pendidikan barat mupun lainnya yang memimpin pergerakan.

8. Kerajaan belanda yang gagal memberikan pekerjaan terhadap kaum terpelajar hindia belanda sehingga golonganyang membahayakan terhadap pemerintahan colonial.

9. Adanya semangat mental dengan tumbuhnya masionalisme di asia seperti perlawanan filipna terhadap spanyol, jepang melawan rusia, kisah perjuangan orang India.

10. Penindasan yang dilakukan colonial belanda terhadap rakyat dalambidang ekonomi, social, politik menyebabkan terjadinya berbagai perlawanan terhadap belanda baik dari kalangan rakyat pribumi ataupun dari kalangan bangsa belanda sendiri. (Khoo Girlbert:1976).

Referensi :

  1. Gerakan 30 September ( Pemberontakan Partai Komunis Indonesia). 1994. Sekretariat Negara Republik Indonesia; Jakarta.
  2. Sodiq Mustafa, dkk. 2004. Sejarah untuk Kelas 3 SMA dan MA. Tiga Serangkai; Solo.

Khoo, Gilbert. 1976. Sejarah Asia Tenggara Sejak Tahun 1500. Kuala Lumpur. Penerbit Fajar Bakti SDN.BHD.

Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

www. wikipedia. Nasionalisme Indonesia. Diakses Tanggal 4 Juli 2008.



(Vertaald in het Nederlands:)

Foto RM.KOESEN

(Zoon van zijn broer PB.IX PB.X)


(Kan worden bekeken op: KITLV (Koninklijk Instituute Taal-, Laand-, en Volkenkunde)

http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=e

envoudigdistkitlv&onderwerp=Surakarta&rpp=30&cp=4)


Hurly-Hara (Javaans: Horegan Horeg-communistische) in Surakarta optreden als gevolg van het

gedrag van sommige partijen die willen opvallen op een verstandige groep communisten, het

lied werken in termen van R.Ay.Bandiyah Soetarmi Prodjokoesoemo is "Sabarang Reh yen Tilar

Sethithik zal Wekasan Edhing Kapitunan "

Dit betekent in de Indonesische taal is iedere actie, denkpatronen, spraak, houding en

gedrag bij het verlaten van de beginselen van verwantschap en consensus overeenkomst

(geciteerd uit de uitspraken van Bung Hatta) dan is het resultaat van het verlies / grote

ellende voor degenen die afzien van deze beginselen eerder. Want als bepaalde partijen die

afzien van de beginselen die zij was zeker kan peralat worden door een politiek van bepaalde

landen die belangen hebben die schade / leed voor de mensen. Proberen als tussen de partijen

te zullen onderhandelen over onbuigzame en sluiten de rangen met het Paleis Soerakarta, dus

er zal vrede die leidt tot vrede en welvaart samen te zijn, maar het is anders als er

didalampihak-partij-oknumnya onbuigzame elementen hebben ambities om een ​​leider die niet

wordt gecontroleerd leiderschap en macht zijn, dan is het inderdaad opzettelijke antwoorden

op Tilar Sabarang Reh Sathithik Edhing Wekasan Kapitunan zullen zingen, dat is wat ze

willen, omdat ze wijzen op een betere break uit elkaar te halen, , schade, en vernietigd pas

daarna weer op te bouwen op basis van puin schade en stapels van de vorige problemen, en ze

denk niet dat het probleem zal stack voorgedaan dikelak later, als een als een klein kind

die niet gehoorzaamd wordt zijn verzoek en vervolgens ongecontroleerd en schade woedde dan

ook en zonder eerst na te denken. Dus daarom zijn we het roerend eens met meneer de

president Soeharto proactieve maatregelen om de communisten uit, ajaranya leringen, en zijn

handlangers van de Aarde Indonesië (voor de stabiliteit van de veiligheids-en defensiebeleid

Negara Indonesia crush bleef stabiel en onder controle altijd, en mensen Sentausa veilige,

eerlijke en welvarende) en de Wereld in het algemeen. Uit de beschrijving hadden we

geluisterd naar lezer bias turbulente geschiedenis van de communistische opstand in 1926

vanuit hun perspectief glas, zoals een beschrijving hieronder:



Rebellion 1926

Rebellion 1926, ontworpen door het besluit dat Prambanan zelfmoord geleid voor de nationale

strijd van het Indonesische volk tegen de indringers op dat moment. 1926 Rebellion onrust en

onrust is slechts een kleine opschudding in verschillende regio's in Indonesië. Zo

gemakkelijk in een korte tijd de Nederlandse kolonisten te beëindigen. Als gevolg daarvan

duizenden politieke strijders gevangen genomen en opgesloten. Er werden gemarteld, sommigen

werden gedood en velen werden verbannen naar Digoel, Irian Jaya. Dit evenement wordt

gebruikt als een voorwendsel van de Nederlandse te arresteren, vast te houden en verwijder

alle mensen die zich verzetten tegen hen zijn, zelfs indien niet de PKI. Dus de nationale

perjaungan kreeg een heel zware klap en liep een grote tegenslag en verlamd voor jaren.

Tan Malaka's worstelen met de communistische partij in de wereld is heel duidelijk. Hij

heeft niet alleen het recht om suggesties en geven kritiek en gedrag maar ook het recht om

zijn veto uit te spreken over de acties ondernomen op het gebied van zijn communistische

partij uit te spreken. Tan Malaka moet ook toezicht op te voeren om de statuten, programma's

en de tactiek van de Komintern (Communistische Internationale) en Profintern zoals het is

vastgesteld in het Congres, werd het congres in Moskou, gevolgd door de communistische

wereld. Zo zijn verantwoordelijkheden als vertegenwoordiger van de Komintern is zwaarder dan

zijn lidmaatschap van de PKI.


In de maand januari 1926

In januari 1926 besloot de Nederlandse regering om Musso arresteren, maar hij verdween.

Blijkbaar Musso vluchtte naar Singapore. Vervolgens deelde hij Alimin naar Moskou om het

besluit van Prambanan te bespreken, na Tan Malaka als Komintern vertegenwoordiger die Alimin

ontmoet in Manilla, weigerde rebellie PKI (Beschikking Prambanan) te maken. Daar hebben ze

allebei een reactie van Stalin, is niet toegestaan ​​om de opstand te houden. In feite zijn

beide zijn van harte welkom om te verblijven voor drie maanden om weer op de theorie van de

indoctrinatie revolutionaire strijd. Ze eindelijk naar huis gestuurd met een besluit, dat

Stelin PKI houd rebellie verbiedt. Maar wanneer ze op de weg terug naar Indonesië. Opstand

uitbrak in november 1926 in West-Java en West-Sumatra in 1927. Als gevolg hiervan werd de

PKI ontbonden en alle activisten verwijderd. Musso uiteindelijk terug naar de Sovjet-Unie om

de school weer als 'officieren' Komintern.

Communistische opstand in het jaar 1926

Na het succesvol inbedden zijn plaats in een vrij groot lichaam van SI, de PKI begonnen om

hun invloed te gebruiken om de mensen te mobiliseren met behulp van de SI vlag om een

​​fysieke strijd tegen de Nederlanders uit te voeren. PKI inspanning is succesvol ontstond

onrust in veel plaatsen, dat wil zeggen op 12 tot 14 november 1926 in Jakarta Kerisidenan,

12 Nopmever tot en met 5 december in Banten, 12-18 november 1926 in de Preanger, 17-23

november 1926 in Surakarta, 12 november 1926 -15 Desmber in Kediri en 1 januari-28 februari,

1927 op Silungkang (West Sumatra). Maar deze onrust kan worden opgelost door de Nederlandse

overheid en vele communistische-nationalistische leider die werd gearresteerd en in de

gevangenis, en sommige zelfs op de grond gegooid Digoel rood (Irian Jaya).
In 1920 in Indonesië marxisme begon te snel groeien

In 1920 in Indonesië marxisme begon te snel groeien

en wijdverbreide, kan worden aangetoond met de oprichting van de PKI (Indonesische

Communistische Partij) in Semarang door Semaun en Darsono. Vervolgens in Surabaya, die werd

ontwikkeld door de HOS Tjokroaminoto vast een verstandige SI marxisme. Zoals eerder bekend

is SI is een organisatie

De islam is het verstandig om te kijken naar een meer aanvaardbare PKI aanwezigheid van

kleine gemeenschappen, dan HOS Tjokroaminoto met SI goedgekeurd en in combinatie met de leer

van het marxisme de islamitische leer

later gaf de geboorte tot de synthese van "Islam en de socialisten 'meer sociaal

aanvaardbaar (Natuur 2004:371). Bung Hatta tegen te begrijpen Bung Hatta winstoogmerk, maar

probeer de mens als een schepsel van God af te stemmen met het oog op de gelijke behandeling

van staat denngan te verkrijgen, niet de ene groep onderdrukt door een andere groep. Bung

Hatta geven inzicht van het socialisme dat glas van het dorpsleven in de vorm van

wederzijdse hulp en principes familie, die een voortzetting is van het collectivisme dat

uniform. In essentie Bung

Hatta wil dat de afwezigheid van een groot leider die niet tekontrol het verrichten van al

haar wensen, integendeel, hij wil het principe van de verwantschap die en een consensus om

niet op zoek vijandelijkheden te bereiken, maar opgraven de waarheid samen.

In het najaar van 1911 en begin 1912, toen moslims beginnen te ontwaken en opstaan ​​uit

zijn slaap. Met de leiding van Haji Samanhudi (Solo) en later in de ondersteunende, gevolgd

en geleid door Umar zei Cokroaminoto, de SI werd gevestigde islamitische Handel (SDI), die

uiteindelijk bernamakan naar de afdeling van de sociale en economische basis van religie

(Islam), deze verbanden zijn massa bestrijkt het hele Islamitische Ummah, zodat trillingen

en beweging is erg grote stap effect en weerklinken helemaal over de oceaan in de gehele

archipel van Atjeh naar Merauke. Binnen en vooral na de Eerste Wereldoorlog (1914-1918) en

later dan de ondertekening van de vrede van Versailles Verdrag (1919), dan is het

Nederlands-Indië koloniale overheid gebruikt gladde tactiek: Menina-bobokan Indonesische

natie, met "de toekenning van politieke rechten" ( Hoewel zeer eenvoudig en klein), dus

dibentuknyalah Volksraad en overheidsinstellingen andere.

Deze tactiek werd voorafgegaan door een maaltijd "voedingsmiddelen die heerlijke, zoete en

hartige" - in overeenstemming met de Indonesische taal - een duurte tooslaq, promotie,

waarbij alle soorten van sterren, tekens en andere diensten. Intussen is de melodieuze song

"November-Belofte" gezongen op het ritme van meriahnya onder leiding van een kopelmeester

een slimme, slim, handig en verstandig in overeenstemming met hun taken

(gouverneur-generaal) Idenburg.

Soortgelijke gezangen die moeten worden zoemden en geborreld in elk oor van Indonesië. Want

als er rellen of volksopstand, dan is de Nederlandse regering op dat moment nog niet over

voldoende kracht om ze te overwinnen positie en macht van de Nederlandse koloniale regering

in Indonesië te handhaven, terwijl de kracht van Nederland zelf kan niet simpelweg worden

overgedragen aan Indonesië als steun, omdat de Nederland had verdedigen de vrijheid

(neutraliteit) land.

Een paar jaar later dan dat, pemeritah Nederlandse kolonie zien de ijzeren vuist en harde

maatregelen uit te voeren op elk terrein (de tijd van gouverneur-generaal De Fook).

2. Ondertussen schakelaar SI en de aard van haar activiteiten, wordt een politieke

vereniging gebaseerd op het besluit congres in Madiun (1922). Sarekat Islamitische Partij

van Oost-Indië en 8 jaar later omgezet in Sarekat partij Islam Indonesia (PSII), het Congres

van Jakarta met een sterkere basis gewrichten en stevige alsmede politieke programma's,

economische en andere breder.

In de tussentijd SI lijden schade en breuk in met als gevolg van de communistische

infiltratie (check hieronder, zodat de te splitsen in SI SI Rood Wit en dat uiteindelijk de

twee politieke partijen die voortdurend met elkaar in tegenspraak), de Partij van de

Islamitische Sarekat Indonesië ( PSII) en de Indonesische Communistische Partij (PKI).

Met de druk van de Nederlandse koloniale overheid in die tijd van de beweging in het

algemeen, de houding ten opzichte van de (co-operatie) op een niet (niet-samenwerking). Ze

verlaten de vertegenwoordigende organen in de vorm van koloniale overheid in die tijd.

3. Tijdens de politieke situatie in Indonesië in plaats van warm en het verband tussen de

beweging - vooral PSII - worden gespannen, makaa gehoord door de zwakke, maar heel duidelijk

en helder staatsgreep met de leiders van de Wahhabi Abdul 'Aziz ibn Sa'ud die met succes

staatsmacht te grijpen uit de handen van Sharif Hussein, de handen en marionet van de

Britten in de Arabische Jaziratul (1925).

De overwinning van de Wahhabieten en de verplaatsing van de macht van Sharif Hussein

Arabische land Abdul 'Aziz ibn Sa'ud niet de minste invloed op de prijs en de waarde ervan

voor de samenleving en de islamitische beweging in Indonesië. Met moslims in Indonesië zich

onmiddellijk te verenigen in een (consensus federatie) is een islamitisch blok en stuurde

gezanten naar Arabische landen, te weten Umar zei Cokroaminoto en KH Mas Mansour (elk van

PSII en Muhammadiyah).

De gelegenheid werd gebruikt om een ​​All Natural Islamitisch Congres te organiseren, had de

Indonesische moslims uitgegroeid tot een van de leden bij naam Mu'tamar-ul

"Alam-il-Islami-Hindisy farul-Syarqiyah (MAIHS), All Natural Islamitisch Congres tak van de

Oost-Indië. Samenvatting van de Indonesische moslims naar de afdeling van de pan-islamisme

is mislukt als gevolg van obstakels en hindernissen, concurrenten en de uitdagingen van de

imperialisten (voornamelijk Britse), omdat de moslims zelf zijn niet groot genoeg bewustzijn

en himmahnya uit te voeren en het bewijs van het pan-islamisme te realiseren, hoewel scores

afgelopen decennia is aanbevolen geïnitieerd door de Internationale Islamitische leiders

zijn erg beroemd, net als Jamaluddin al-Afghani, Mohammed Abduh en Amir al-Husainy. Na de

dood en het aanhangsel van de eerste internationale islamitische bedrijf, dan voor de tweede

keer diutusnyalah KH Agus Salim, om het Arabische land. Dus dibentuknyalah een

internationale islamitische verenigingen - bernamakan Ansharul-Haremain (tweede Verdedigers

van het Heilige Land, Mekka en Medina) - die de grond en vervanging MAIHS gestrand in de

oceaan riffen liep. Andere dan de weg naar buiten via de pan-islamisme, het islamitische

Ummah Indonesië (lees: PSII) ook een manier vinden om de internationale majors "links en de

Rode-jongeren" (socialistis, sociaal-democratische en enigszins communistisch). Dus

didapatnyalah bestuurlijke verhouding tussen PSII met de Liga van anti-imperialisme,

anti-kapitalisme en anti-koloniaal, die het instituut is gevestigd in West-Europa.

Deze inspanning al snel raakte een doodlopende weg, en uitval in totaal. Onder de oorzaken,

is het noodzakelijk de druk record en hardhandig optreden Parket dan de Nederlandse

koloniale overheid in die tijd. In verband met die, dan is de toestand van politieke

bewegingen, sociale, economische, religieuze en andere in Indonesië op dat moment niet veel

vooruitgang, lethargie en gebrek van de geest als het bijna stilstaande (statische).

4. In de vroege dagen van de Japanse standpunt, dan zijn alle islamitische politieke

verenigingen dibunuhnyalah. Masyumi (Shura Raad van islamitische Indonesië), en vervolgens

MIAI (Ala Indonesische Islamitische Raad), beide gemaakt in Japan - door tussenkomst van

haar agenten Kyai Kyai-ala Tokio - zijn de instellingen en het slagveld. Door jonge

islamitische partij, de revolutionaire en progressieve, deze instelling in gebruik is te

organiseren en te reguleren "ondergrondse beweging", evenals die van andere kameraden in

wapens en andere Hookookai lichaam "aanbidding" kunstmatige "oudere broer" was .

Subversief zaden in de "gouden kooi 'van Japan - dat is eigenlijk een concentratiekamp,

​​gevangenis kamp subtiel - in de toekomst zal worden geconfronteerd met de Nationale

Revolutie, werd de rij-en power-grote macht.



COMMUNISME

1. Communistische revolutie in Rusland die zich aan het einde van de Eerste Wereldoorlog

(1917), is een van de belangrijkste participaties in de geschiedenis van de wereld, met name

over de ontwikkeling van de Communistische Internationale. Binnenkort later dan de

voltooiing van de Eerste Wereldoorlog (1919), de Internationale Kommunistische agenten met

directe leiding van Rusland - Internationale III - te verspreiden en te infiltreren in bijna

elk land ter wereld. Ook in Indonesië. In de toetreding en de groei van het communisme in

Indonesië, onder andere, hebben gewezen op de naam van sommige Nederlanders, zoals Baars en

Sneevlit. Onder zijn studenten zijn zeer loyaal, zo-zo genoemd Sama'un, Darsono, Marco

(Kartodikromo), Alimin, Muso, Ali-archam, Tan Malaka en weer anderen.

Door middel van het communisme gif injecteren in het lichaam en de ziel SI leiders op dat

moment, de onmiddellijke associatie is gesplitst in twee stromen die strijdig zijn met

elkaar als de vijand geen vrede kennen.

De beslissing over de partij-vakgebied in het SI congres in 1921 naar de twee afzonderlijke

stromen en elementen ervan, zodat elke stand met de vorm SI White Party werd de Partij van

de Islamitische Sarekat Oost-Indië (eindelijk PSII) en SI roodheid van het rode kanaal

stroom in Indonesische Communistische Partij (PKI).

Koloniale overheid houding op dat moment "zien en wachten", is in de praktijk een beleid van

"schiet op de schapen" - divide et impera - de Partij van de Islamitische Sarekat Indonesië

en de Indonesische Communistische Partij altijd afgewisseld met de acties die "indirecte

"(inderekt): slaan beide partijen, met bendes wakker SI Groen, Daf'us-Shit,

al-Hasanatul-Khair en anderen (in de laatste dagen cap is ook zichtbaar bende Anchor) was de

indringer instrumenten worden gefinancierd en direct of indirect geleid door de koloniale

overheid. De geest van een jonge communist, die stond in lichterlaaie op dat moment - met de

centrale (Centraal Comite) in Semarang, het Mekka van Moskou en met directe instructies in

plaats van agenten van Lenin - onmiddellijk en snel slijten de intentie en het doel, de

macht greep uit handen van de Nederlands-Indië koloniale overheid.

Het gebeurde aan het eind van 1926 en is bekend onder de naam van de communistische opstand.

In de kroniek was geregistreerd als een staatsgreep communisme eerste. Met de feitelijke

gebeurtenis, omdat de daad van provocatie die een tijdje is geweest voordat opzettelijk

gesmokkeld in het lichaam van het communisme Indonesië, de koloniale autoriteiten hadden

"redelijke grond en legitieme" uit te roeien en te vernietigen "communisme". Duizenden

mensen, mannen en vrouwen, jong en oud het slachtoffer geworden van de strijd, de

slachtoffers van het communisme, in flue-verbannen naar Boven Digoel.

Onder de leiders die hebben deelgenomen aan de verwijdering van het was Marco die enkele

jaren later overleed in het land van ballingschap. In het geval van 1926 terebut boven, laat

het record op naam van een agent provocateur zelfgemaakte Nederlandse verrader van het

communisme in Indonesië is Sanoesi, een tool-Nederlandse kolonisten, de communistische

leider nep.

Als voor de andere leiders, ze snel links Indonesië naar het buitenland te gaan om de majors

in Moskou te gaan. Onder degenen die ontvangen "goede wind" zou kunnen worden tot de

communistische hoofdstad, terwijl de meeste anderen waren gestrand in het midden van de weg

(Singapore, Bangkok, Rangoon, Shanghai). Onder hen, de zo-zo op de plaat de namen van Tan

Malaka, Alimin, Muso, Sama'un, Darsono en Subakat.

Waar ze werden loyaal aan de organisatie (in het Russisch) is duidelijk met de helverlichte

eerste opgelaaid in de vroege fase van de Nationale Revolutie in Indonesië (1945), vooral na

de revolutie enigszins was afgenomen. Ze ging terug naar zijn oorspronkelijke basis, behalve

voor sommige mensen. Natuurlijk met de taken dan de ouder-organisatie.

2. Vanaf dat tijdstip tot het einde van de Nederlandse koloniale overheid (begin 1942), is

het niet op zoek naar tekenen dat de communisten in Indonesië nog zou leven, wakker en weer

opstaan ​​als de belastingplichtige pukau zwakke en zeer zware klap.

Nationalisme in Indonesië ontstaan ​​als gevolg van factoren zoals de volgende, te weten:

1. Nederlandse overheid zelf die vreemd is, de mensen, die het nationale bewustzijn verhoogd

onderdrukken begrepen.

2. Conflicten kebdayaan, sociale en religieuze. Religie wordt gebruikt als een instrument om

unruk vastberadenheid en het wederzijdse begrip van nationaliteit te verenigen.

3. De vergelijking die in de Maleise taal.

4. Mlahirkan fundamenteel gevoel van fatsoen, dat ontevredenheid met de Nederlandse overheid

5. Vooruitgang in de technologie zoals radio en kranten da eenvoudig om de betrekkingen te

voeren met andere kringen.

6. Het bestaan ​​van een relatie met de Koninklijke Nederlandse, zodat het Indonesische volk

de politiek te leren. Dus het groeiend gevoel van de natie en een verlangen vrij van

kolonialisme.

7. Bestaan ​​van intellectuelen uit zowel andere mupun westerse opvoeding die de beweging

heeft geleid.

8. Koninkrijk van Nederland die niet aan hun taken naar de hoogopgeleide Indische

Nederlanders geven zodat golonganyang schade tegen de koloniale overheersing.

9. Het bestaan ​​van de geestelijke met de groeiende geest masionalisme in Azië, zoals

filipna weerstand tegen Spanje, Japan tegen Rusland, het verhaal van de strijd van Indianen.

10. Nederlandse koloniale onderdrukking begaan tegen het volk dalambidang economische,

sociale, politieke oorzaken van de weerstand tegen de Nederlandse zowel vanuit de inheemse

bevolking of van de Nederlandse natie zelf. (Khoo Girlbert: 1976).

Referentie:

1. 30 september-beweging (Indonesische Communistische Partij van Opstand). 1994.

Secretariaat van de Republiek Indonesië, Jakarta.
2. Sodiq Mustafa, et al.. 2004. Geschiedenis voor graad 3 SMA en MA. De Drie; Solo.

Khoo, Gilbert. 1976. Zuidoost-Aziatische geschiedenis sinds het jaar 1500. Kuala Lumpur.

Uitgever Fajar Bakti SDN.BHD.

Suhartono. 2001. Geschiedenis van de Nationale Beweging van Budi Utomo Up proclamatie

1908-1945. Yogyakarta. Student Reader.

www. wikipedia. Indonesische nationalisme. 04 juli 2008 geopend.